Surat-surat Aubrey

Sumber: Koran Kompas, 15 Januari 2011
Judul : Love, Aubrey
Peresensi: Paskalina Oktavianawati
Penulis : Suzanne LaFleur
Penerbit : M-pop (Kelompok Penerbit Matahati)

Kehilangan ditinggal pergi oleh orang yang disayangi bisa membuat seseorang depresi dan sedih berkepanjangan. Hal ini dialami Aubrey dan ibunya. Aubrey kehilangan ayah dan adiknya karena sebuah kecelakaan. Aubrey dan ibunya juga korban kecelakaan tersebut, namun keduanya selamat, semantara itu ayah dan adiknya tidak selamat. Semenjak kecelakaan itu, Aubrey tinggal bersama ibunya di Virginia.

Sebagai gadis cilik berusia 11 tahun, Aubrey kuat menghadapi kesedihan mendalam karena kesedihan itu, sedangkan ibunya mengalami depresi hebat. Kesedihan mendalam dan menyalahkan dirinya atas kecelakaan itu, membuat ibu Aubrey meninggalkan rumah juga Aubrey. Kesedihan diekspresikan setiap orang dengan cara yang berbeda-beda.

Aubrey mengekspresikan kesedihan melalui surat. Surat yang tak pernah dikirim, hanya ditulis Aubrey dan disimpannya. Tapi surat-surat yang ditulis itu membuatnya tegar karena memunyai tempat untuk mencurahkan perasaan pada orang-orang yang dicintai tetapi tidak bisa ditemuinya lagi. Persahabatan Aubrey dengan Bridget, perlahan-lahan membantu mengurangi kesedihan Aubrey. Aubrey melakukan berbagai kegiatan bersama Bridget dan keluarga. Apalagi setelah Aubrey bersekolah.

Pihak sekolah memberi kesempatan pada Aubrey untuk konseling dengan seorang guru bimbingan konseling. Setiap minggu dia bertemu dengan guru tersebut. Perlahan-lahan konseling itu juga membantu Aubrey menjadi lebih baik. Ketika Aubrey sudah merasakan hidup yang lebih baik, memunyai sahabat, hubungan dengan neneknya baik, dan memunyai teman-teman sekolah, ibu yang meninggalkan datang untuk menjemputnya.

Kedatangan ibunya membuat Aubrey senang, tapi di sisi lain Aubrey takut ibunya akan meninggalkannya lagi. Dengan kebijaksanaan dari Gram, neneknya, Aubrey diminta untuk memilih, tetap tinggal bersama Gram atau kembali dengan ibunya. Menurut pengakuan ibunya, dia telah mampu menghidupi dirinya dan Aubrey. Aubrey merasa senang ibunya telah berangsur-angsur sembuh dari depresinya. Aubrey ingin kembali tinggal dengan ibunya.

Tapi dia senang tinggal bersama neneknya, Gram. Dia enggan meninggalkan kebahagiaan yang telah didapatkan di rumah neneknya. Novel ini memberikan inspirasi bagi pembaca, baik itu anak remaja maupun orang dewasa. Kisah Aubrey dalam novel ini mengajar pembaca banyak hal. Pertama, kehilangan seseorang yang dicintai adalah peristiwa yang menyakitkan. Namun, kita tidak bisa terus-menerus larut dalam kesedihan, ada orang yang masih membutuhkan perhatian kita.

Jika seorang istri kehilangan suaminya, dia harus bertahan dan tegar menjalani hidup karena masih ada anak yang harus disayanginya dan membutuhkannya. Kedua, kesedihan lebih baik tidak dipendam seorang diri. Jika tidak mempunyai teman untuk bercerita, ceritakan apa kesedihan atau pengalaman dalam sebuah tulisan surat seperti yang dilakukan Aubrey atau tulisan buku harian.

Ketiga, keluarga dan sahabat sangat membantu seseorang untuk bangkit dari keterpurukan oleh apapun. Seperti halnya Aubrey, Gram dan Bridget adalah keluarga dan sabahat yang mampu menemani dan membangkitkan kembali semangat hidup Aubrey.

Peresensi adalah Paskalina Oktavianawati, alumnus Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Komentar

 

 

 

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>