Membaca Kisah Laki-laki Ateis

Sumber: Koran Jakarta, 22 Januari 2011
Judul : Kebohongan
Penulis : Erwin Pardede
Peresensi:Ali Rif’an
Penerbit : Naga Saco
Tahun : I, 2010
Tebal : 554 Halaman

Novel ini berkisah tentang seorang lelaki tangguh, pernah hidup susah, kemudian merangkak menjadi pengusaha sukses, bahkan menjadi pejabat tersohor di Senayan. Namun, entah faktor apa, tiba-tiba ia berubah 99 derajat. Dalam gelimangan harta dan jabatan, ia justru menjadi orang yang tak percaya kepada Tuhan. Ia meninggalkan agama yang telah dihayatinya selama puluhan tahun, mencibir eksistensi kehidupan surgawi, bahkan sangat skeptis dengan keberadaan Tuhan. Saking skeptisnya, ia sering kali menggugat Tuhan.

Kenapa Tuhan diam ketika ribuan perempuan diperkosa oleh ratusan serdadu Jepang dalam Perang Dunia II? Kenapa pula beragam bencana dan kelaparan menimpa kita jika Tuhan memang Maha Penyayang? Yang lebih mencengangkan lagi, ia juga menjadi pendukung fanatik seks bebas (free sex) dengan segala bentuknya, baik hubungan seks pranikah, selingkuh, dan seterusnya.

Kenapa tidak boleh berhubungan seks jika itu dilakukan atas dasar suka sama suka? “Kalau perempuan memberikan kenikmatan daging kepada saya, kenikmatan yang tidak bisa diberikan oleh istri saya, perempuan itu sesunggguhnya telah berjasa kepada istri saya, bukan berdosa,” begitu tutur lelaki yang di kemudian hari menjadi ateis itu.

Sebagaimana tertulis dalam testimoni Prof Dr Tjipta Lesmana di novel ini, tentu pandangan semacam itu merupakan bentuk absurditas yang pasti akan dicaci-maki oleh masyarakat bermoral. Novel ini memang nyeleneh dan bisa dikatakan sangat ekstrem, tapi itulah uniknya karya ini. Penulis mampu menelanjangi segala kemunafikan hidup.

Memotret realitas moralitas anak muda. Pun mampu membuka kotak pandora praktik kotor dan kemunafikan yang banyak dilakukan oleh orang-orang terhormat, termasuk para wakil rakyat. Dari sisi substansi, aspek teologis lebih dominan dalam novel ini. Seperti pada subjudul “Kebohongan dan Pembohongan” (hal 31). Di sini banyak dialog yang penuh muatan teologis- filosofis. “Aku yakin, kemunafikan yang bersumber dari kefanatikan agama adalah penyebab satu bangsa tidak dinamis, sehingga sulit memperoleh kemajuan ekonomi.”

(hal 32) Oleh karena itu, meski terkesan gagah berani, terkesan pula penulis novel filsafat ini siap menghadapi tantangan dan hujatan dari segenap pembaca. Lebih dari itu, yang menarik dari novel ini adalah banyak dialog yang disertai argumentasi bernada keras melalui pikiran rasional atau irasional, dilengkapi dengan cerita berdasarkan fiksi dan fakta, serta dibumbui kalimat kocak yang berbau porno.

Untuk itu, dari sisi moral dan teologis, mungkin kita akan keberatan membaca novel ini, tapi dari sisi keunikan sebuah karya sastra, kita patut memberikan acungan jempol pada karya mantan anggota DPR RI ini. Sebuah novel yang sangat berani!

Peresensi adalah Ali Rif’an, Peneliti The Dewantara Institute; Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta.

Komentar

 

 

 

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>