Agama Tanpa Kekerasan

Sumber: Koran Jakarta, 11 Februari 2011
Judul : Mencungkil Sumbatan Toleransi
Peresensi:  M Abdullah Badri
Penyusun : Tim Impuls Yogyakarta
Penerbit : Kanisius dan Impuls Yogyakarta
Tahun : I, November 2010
Tebal : viii + 231 halaman

Beberapa waktu lalu, wajah keberagamaan kita tercoreng kembali setelah jemaah Ahmadiyah di Pendeglang, Banten menjadi sasaran kekerasan orangorang yang berbeda keyakinan. Tiga orang jemaah tewas, puluhan lainnya luka-luka, dan banyak bangunan rusak parah akibat amukan ribuan massa. Sungguh, kekerasan tak pernah berujung solusi.

Mahatma Gandhi dengan Ahimsanya telah membuktikan, melawan dengan kekerasan tidak pernah berujung perdamaian. Buku Mencungkil Sumbatan Toleransi ini memiliki kontribusi besar dalam pemetaan kehidupan beragama yang santun, harmonis dan bermartabat. Kekerasan yang mengatasnamakan agama tak pernah lahir sebagai perintah dari langit. Ia muncul karena orang yang memeluk agama dikepung oleh kata benci terhadap kelompok lain, kepentingan mendominasi dan paham teologis yang sempit tafsir.

Itulah yang menyumbat indahnya sikap beragama dengan toleransi. Ada tiga pola dimensi beragama yang dalam buku ini disebut memengaruhi sikap keagamaan seseorang. Pertama, supernatural dan transendental. Pola ini adalah pola hubungan intim pemeluk agama dengan kekuatan suprastruktur di luar dirinya seperti meyakini sifat-sifat imajiner Tuhan, menginspirasi para Nabi, dan meneladani tokoh-tokoh spiritual yang dianggap berpengaruh terhadap kehidupannya.

Kedua, pola komunikasi internal. Pemeluk agama secara psikologis membangun keyakinan primordialnya dengan sesama yang memiliki keyakinan tak berbeda. Pola ini ada dalam dimensi relasional antar pemeluk agama. Mereka saling meyakinkan, meneguhkan keimanan dan praktik kesalehan. Pola ini tak memantik ketegangan, bahkan menumbuhkan kesejukan. Ketiga, pola komunikasi eksternal. Orang akan mudah bersikap represif karena bertemu dengan kelompok lain yang berbeda identitas dan keyakinan.

Dimensi ini sarat konfl ik dan ketegangan. Apalagi kepercayaan orang lain itu dianggap sebagai benalu keyakinannya. Dalam tiga aras dimensi beragama itulah, toleransi tersumbat. Satu tawaran dari buku ini untuk keluar dari tersumbatnya kehidupan beragama yang intoleran itu adalah dengan mengintegrasikan ketiga dimensi itu dalam satu terminologi: teologi pluralisme.

Fanatisme beragama timbul karena selain latar belakang sosial, politik, ekonomi dan budaya, juga disebabkan oleh runtuhnya sikap saling menghargai. Dalam pluralisme teologis, keintiman berkomunikasi dengan Tuhan itu sinergis dengan keintiman komunikasi dengan sesama umat beragama (internal) dan antarumat beragama (eksternal).

Pluralisme seperti tersirat dalam buku ini adalah sebuah kesadaran teologis yang menganggap sah setiap keyakinan kita, namun tetap ada kemungkinan mengandung kesalahan. Sebaliknya, keyakinan orang lain mungkin saja sah dianggap salah, tetapi ada kemungkinan terkandung kebenaran. Sesuatu yang dipegang bukan sah dan benar, melainkan Tuhan. Menyembah Tuhan adalah laku pluralisme. Pluralisme bukan “menyembah” fanatisme kebenaran.

Peresensi M Abdullah Badri, peneliti di Idea Studies Fakultas Ushuluddin IAIN Walisongo Semarang.

Komentar

 

 

 

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>