Industri Gagal Lepas Landas

Sumber: Koran Jakarta, 16 Februari 2011
Judul : Keruntuhan Industri Strategis Indonesi
Peresensi: Yanu Endar Prasetyo
Penulis : F Harry Sampurno-Kuffal
Penerbit : Khazanah Bahari
Tahun : I, Januari, 2011
Tebal : 100 halaman

Penulis buku ini membeberkan dengan ringkas, padat dan penuh dengan data terkait perkembangan hingga keruntuhan industri strategis di Indonesia. Dimulai dari latar belakang pengelolaan BUMN sejak awal kemerdekaan, pembentukan Badan Pengelola Industri Strategis (BPIS) pada 1980-an hingga keruntuhan industri pascakrisis moneter pada 1998.

Tidak banyak yang menyadari bahwa ternyata industri Indonesia telah kehilangan kesempatan untuk lepas landas. Perkembangan terkini justru menunjukkan bahwa Indonesia kembali lagi ke 1930-an ketika industri yang berkembang bertumpu pada eksploitasi sumber daya alam yang berdampak merusak lingkungan.

Indonesia pada 1960-an hingga 1980-an baru memulai membangun investasi dalam penguasaan teknologi melalui pendirian BPIS. Mengikuti pola pikir Habibie, usaha pembangunan sektor industri strategis ini harus dicapai melalui upaya transformasi industri. Tahap-tahap transformasi industri tersebut dimulai dari pemanfaatan teknologi yang telah ada, integrasi teknologi, inovasi dan penemuan teknologi baru melalui penelitian.

Tahapan inilah yang kemudian dikenal dengan “begins at the end, ends at the beginning” dan diterapkan dalam industri tertentu dalam konsep wahana transformasi industri. Oleh karena itu, pada 1998 kita memiliki sederet perusahaan yang bergerak di industri strategis seperti IPTN (Industri Pesawat Terbang Nusantara), PAL Indonesia, Pindad, Dahana, Krakatau Steel, INKA, INTI, Barata Indonesia, Boma Bisma Indra, dan LEN (Lembaga Elektronika Nasional).

Peran utama industri strategis itu adalah sebagai ujung tombak industrialisasi dari industri pertanian dan pengolahan menuju industri berteknologi tinggi. Ia juga berperan meningkatkan pengembangan infrastruktur ekonomi dan menciptakan sinergi guna membangun industri pertahanan yang dibutuhkan negara. Sayang sekali, industri strategis yang diharapkan sebagai engine of growth tersebut harus limbung di akhir 1998 terkena prahara krismon dan krisis politik di negeri ini.

Penulis buku ini menyebut era keruntuhan itu sebagai the beginning of an end, permulaan dari suatu akhir. Pasca reformasi kita dibawa pada era deindustrialisasi yang dahsyat dengan hancurnya industri berbasis teknologi. Hengkangnya industri otomotif (Toyota), elektronik (Sony) dan sepatu (Nike) dari Indonesia adalah beberapa contoh. Meskipun buku ini tidak membedah lebih dalam terkait deindustrialisasi yang terjadi, namun berbagai kebijakan yang merusak lingkungan dan tidak memiliki visi jangka panjang tetap harus diwaspadai dan bila perlu ditolak.

Buku ini layak dan penting dibaca oleh siapa pun yang peduli dengan perjalanan panjang pembangunan di Indonesia. Kegagalan lepas landas industri strategis kita di masa lalu harus menjadi pelajaran penting bagi para pembuat kebijakan. Penguasaan teknologi tinggi tidak hanya sokoguru industri lainnya, melainkan juga sokoguru bagi nasionalisme bangsa kita juga.

Peresensi adalah Yanu Endar Prasetyo, peneliti pada Balai Besar Pengembangan Teknologi Tepat Guna-LIPI.

Komentar

 

 

 

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>