Pengabdian Seni di Jalan Politik

Sumber: Koran Jakarta,12 Februari 2011
Judul : Pak Presiden Menyanyi: Esai tentang Karya Musik dan Puisi SBY
Peresensi:Bandung Maward
Penulis : Yapi Tambayong
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta
Tahun : I, Januari 2011
Tebal : vi+302 halaman

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sedang mengalami panen kritik dari segala penjuru oleh kalangan politisi, akademik, ulama, media, dan masyarakat umum. Rombongan kritik adalah manifestasi demokratisasi kendati kerap mengabsenkan kesantunan dan etika politik. Situasi ini menjadikan Indonesia riuh dengan perdebatan, polemik, apologi, dan konfl ik. Jagat politik lahirkan berantakan, tapi Yapi Tambayong justru hadir dengan persembahan buku unik dan bertaburan sanjungan untuk SBY.

Buku ini sengaja menampilkan sosok SBY sebagai seniman ampuh: pemusik dan pesastra. Yapi Tambayong menganggap SBY adalah presiden penting dalam menorehkan sejarah kesenimanan di tampuk kekuasaan. Latar belakang militer dan jabatan sebagai presiden selama dua periode tidak menyurutkan gairah seni. SBY malah rajin menulis puisi dan menggarap lagu. Seni tidak mengabdi politik tapi menjadi oasis untuk refleksi diri dalam bingkai kekuasaan. Bukti kesenimanan SBY adalah publikasi album lagu (Rinduku Padamu, Majulah Negeriku, Evolusi, Kuyakin Sampai di Sana) dan buku antologi puisi (Taman Kehidupan dan Membasuh Hati).

Yapi Tambayong menemukan kelebihan SBY dibandingkan dengan presiden-presiden lain karena talenta dan perhatian untuk seni. Tema cinta, lingkungan, cinta tanah air, toleransi, perdamaian, dan keluarga sering dijadikan medium bagi SBY mengekspresikan imajinasi. Semua ini dilatarbelakangi oleh masa kecil SBY saat di kampung. SBY kecil suka bermain musik, bermain drama, dan bermain kata. Bakat terus disemaikan sampai hari ini meski kerap diremehkan dan mendapat kritik.

Masyarakat tentu masih ingat kasus pencantuman tentang soal judul lagu SBY dalam materi ujian seleksi CPNS di Kementerian Perdagangan pada akhir 2010 lalu. Soal itu menjadi kontroversial gara-gara mengesankan pemihakan dan kultus terhadap sosok SBY. Logika politis adalah soal lagu SBY digunakan untuk indoktrinasi. Kasus itu berlalu tanpa meninggalkan bekas signifi kan. SBY menganggap semua itu sekadar keganjilan karena lagu-lagu baru terus diciptakan. Buku ini seolah memainkan peran sebagai juru penjelas terhadap biografi SBY dalam ranah seni.

Pujian penulis memang kentara disandarkan pada bukti dan argumentasi dalam nalar seni-politik. Ketekunan untuk mengapresiasi lagu dan puisi SBY oleh Yapi Tambayong merupakan pembuktian atas pilihan cara pandang atas penguasa-seniman. Peran penting SBY dalam seni dikuatkan dengan keterangan-keterangan dari kalangan seniman dan ahli seni: Franky Raden, Ben M Pasaribu, Rahayu Supanggah, Jakob Sumardjo, dan Perry Rumengan. Lagu dan puisi SBY merupakan bukti dari kerja kesenimanan di balik kesibukan seorang presiden mengurusi pemerintahan.

Apresiasi oleh Yapi Tambayong alias Remy Sylado mengandaikan tentang profil para penguasa Indonesia di ranah seni. SBY adalah sambungan dari kesenimanan Sukarno dan Gus Dur. Seni mengalir di tampuk kekuasaan mungkin mencairkan arogansi politik dan menjadikan demokratisasi terasakan manusiawi. Buku ini kelak jadi dokumen sejarah dari intimitas seni dan kekuasaan kendati mengandung hiperbola dan propaganda. Begitu.

Peresensi adalah Bandung Mawardi, pengelola Jagat Abjad Solo

Komentar

 

 

 

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>