Membaca Jaringan Ulama Betawi

Sumber: Koran Jakarta, 09 Maret 2011
Judul : Genealogi Intelektual Ulama Betawi, Melacak Jaringan Ulama Betawi dari
Awal Abad Ke-19 sampai Abad Ke-21
Peresensi: Ahmad Syaikhu
Penulis : Rakhmad Zailani Kiki dkk
Penerbit : Jakarta Islamic Centre (JIC)
Tahun : I, Februari 2011
Tebal : xx+184 halaman

Genealogi intelektual dalam dunia keilmuan dan pengetahuan adalah hal yang sangat penting. Ia merupakan sebuah aspek yang dapat menentukan validitas dan bobot sebuah ilmu. Terlebih dalam dunia ilmiah, referensi menjadi tolak ukur keunggulan ilmu yang ditransformasikan. Dalam terminologi Islam, genealogi biasa disebut dengan sanad. Buku Genealogi Intelektual Ulama Betawi, Melacak Jaringan Ulama Betawi dari Awal Abad Ke-19 sampai Abad Ke-21 adalah “Literatur yang dalam kajian Islam jamak dikenal dengan istilah tarjamah, yaitu sesuatu yang dalam historiografi Barat disebut dengan kamus biografi (biographical dictionary),” papar Azyumardi Azra dalam pengantar buku ini.
Buku ini menjadi jawaban atas peran dan kontribusi ulama Betawi yang redup dalam panggung sejarah. Padahal, mereka tidak hanya eksis dalam hal penyebaran dan pelestarian Islam di Nusantara, namun juga telah banyak berkontribusi dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Adalah maklum bahwa kawasan Betawi adalah Sunda Kelapa atau Batavia yang kini masyhur dengan nama Jakarta, ibu kota Indonesia, dan juga meliputi Bekasi, Depok Tanggerang, hingga Karawang. Ini menunjukkan jaringan ulama Betawi cukup luas. Kajian yang dilakukan oleh Jakarta Islamic Centre (JIC) dalam buku ini pun menjadi luas, meski tidak memaparkan sosok-sosok ulama yang termuat di dalamnya dengan detail lantaran karya ini bukan buku biografi .

Pada abad ke-19, ulama yang menjadi titik sentral adalah Syekh Junaid al-Batawi, ia adalah poros ulama sentral Betawi masa kini yang lahir di Pekojan dan masyhur di Mekkah lantaran pernah menduduki jabatan imam Masjidil Haram serta Syaikhul Masyayikh yang terkenal di kalangan Sunni dan mazhab Syafi ’i. Di bawah asuhannya, lahir ulama-ulama seperti Syekh Nawawi al-Bantani, Syekh Khatib al-Minangkabawi, dan dari Betawi, Syekh Mujitaba al-Batawi, serta Guru Mirshod Cipinang Muara.

Buku bersampul cokelat keemasan ini sangat menarik lantaran genealogi intelektual ulama Betawi dinarasikan begitu unik membentuk jaringan yang sistematik. Ulama-ulama terkemuka tumbuh-kembang dengan pelbagai macam model, mulai dari pondok pesantren, madrasah, majlis taklim, dan bahkan bermukim ke Timur Tengah. Namun, yang lebih menarik, kebanyakan ulama Betawi yang meski hanya mengenyam bangku majlis taklim mampu setaraf dengan ulama-ulama internasional, sebut saja muallim KH Syafi ’i Hadzami dan Syekh KH Saifuddin Amsir.

Membaca buku ini kita diajak melacak jaringan ulama Betawi yang telah menghidupkan Jakarta dengan nuansa religiusitas di tengah-tengah hiruk-pikuk Jakarta. Ulama Betawi telah eksis sejak beberapa abad silam di buminya, hingga kini mereka terus melestarikan dan meningkatkan diri untuk membimbing dan menjawab permasalahan umat yang semakin modern.

Peresensi adalah Ahmad Syaikhu, penulis adalah alumni UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.

Komentar

 

 

 

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>