Obituari Bersama Orangtua

Sumber: Koran Jakarta,30 Maret 2011
Judul : Berkah Kehidupan: 32 Kisah Inspiratif Tentang Orang Tua
Peresensi: Ahmad Faozan
Editor : Baskara T. Wardaya
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Jakarta
Tahun : 1, 2011

Sebagian besar, anak memunyai kesamaan dengan orang tuanya, baik dari segi fisik maupun sifat-sifatnya. Hal itu bersifat alamiah. Beruntung sekali apabila kita memunyai orang tua secara fisik bagus kemudian memiliki kebiasaan yang baik, yakni gemar belajar, bekerja keras, dan banyak berprestasi.

 

Sebab, nantinya orang tua tersebut akan menjadi inspirasi bagi anaknya. Spirit orang tua, harus bekerja dari siang hingga larut malam. Harapannya adalah supaya apa yang menjadi kebutuhan keluarga, terutama yang menyangkut kebutuhan pokok bagi anak, dapat tercukupi.

Hal itu memang berat namun sudah menjadi kewajiban dan tanggung jawab orang tua, suka atau tidak suka mereka jalani dengan semangat. Sebagai orang tua, tentu dalam lubuk hatinya ikhlas dan tulus memberi yang terbaik kepada anaknya tanpa berharap atau menagihnya suatu saat nanti. Kasih sayang orang tua terhadap anak tak ternilai harganya. Di tengah merosotnya perilaku publik dan etika politik di negeri ini, buku berjudul Berkah Kehidupan: 32 Kisah Inspiratif Tentang Orang Tua hadir di hadapan pembaca.

Dengan harapan dapat menjadi sumbangsih bagi pembangunan keluarga yang kokoh. Membangun bangsa dari lingkungan keluarga merupakan cara terbaik guna mempersiapkan generasi-generasi muda yang unggul. Buku ini memotret pengalaman sejarah para tokoh dengan orang tuanya. Misalnya, Syafii Maarif, Franz Magniz Suseno, George J Adijtondro, Benedict Anderson, dan Imam Aziz.

Syafii Marif yang kita kenal sebagai mantan ketua Muhammadiyah dan pemuka agama, menuturkan sewaktu kecil ayahnya sama sekali tidak mengenyam pendidikan tinggi tetapi hanya sampai pada tingkatan SR (Sekolah Rakyat-red), namun pengetahuannya di atas rata-rata karena memang orang tuanya gemar sekali membaca buku. Hal itu kemudian menghantarkan Syafi i Maarif menjadi seorang pengembara ilmu.

Beliau menimba ilmu hingga ke Chicago, Amerika Serikat. Membaca buku ini hati kita akan tergugah. Kemudian, terangsang untuk segera membuka memori sejarah bersama keluarga, terutama saat bersama orang tua kita. Rasa haru dan gelisah menyelimuti jiwa kita. Sebab, kita merasa sudah begitu banyak melakukan kesalahan-kesalahan, baik dengan sengaja maupun tidak disengaja. Kemudian timbul dalam diri kita, apa yang dapat kita perbuat supaya kesalahan-kesalahan kepada orang tua termaafkan.

Dalam konteks inilah, buku ini menjadi penting untuk dibaca dan dihayati oleh kita. Kisahnya sangat inspiratif bagi siapa pun yang membacanya. Dengan membacanya, kita dapat memetik pelajaran yang berharga, yakni sadar untuk berusaha menghargai jasa-jasa kedua orang tua setelah kita menjadi orang sukses, serta harus menempatkan orang tua sebagaimana mestinya.

Presensi adalah Ahmad Faozan, Sekjen Himasakti (Himpunan Mahasiswa Alumni Santri Keluarga Tebuireng), Yogyakarta.

Komentar

 

 

 

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>