Pejuang Republik yang Santun

Sumber, Koran Jakarta,08 April 2011
Judul : Natsir: Politik Santun di antara Dua Rezim
Peresensi: Ali Rif’an
Penulis : Tim Seri Buku TEMPO
Penerbit : KPG (kepustakaan Populer Gramedia) dan Majalah Tempo
Tahun : I, Januari 2011
Tebal : xi + 164 halaman

Bangsa Indonesia tidak boleh melupakan tokoh yang satu ini: Mohammad Natsir. Natsir adalah satu dari sedikit tokoh Islam di masa awal republik yang tak gagap akan gagasan demokrasi, hak asasi manusia, dan supremasi hukum.

Ia dikenal santun, sederhana, toleran, serta teguh dalam memperjuangkan Republik Indonesia. Karena itu, seabrek atribut disematkan kepadanya, mulai dari cendekiawan, pejuang, politisi, ulama, maupun negarawan.

Bagi umat Islam, Natsir merupakan prototipe tokoh kebangkitan Islam Indonesia yang fenomenanya setara dengan Sayyid Quthub dari Ikhwanul Muslimun atau pun Abul A’la Al- Maududi dari Jama’at Al-Islami.

Lantaran itu, dunia Islam pun mengakui peran dan pemikirannya. Buku berjudul Natsir: Politik Santun di antara Dua Rezim ini penting dibaca lantaran menguraikan fakta-fakta sejarah perjuangan Natsir yang sangat mencintai Indonesia.

Natsir adalah patron politisi langka Indonesia. Ia sering berdebat keras di DPR dan Konstituante dengan lawan politiknya, tapi di luar gedung, ia sangat bersahabat. Natsir juga contoh pribadi yang bersahaja. Sebagai pejabat negara, dia tak hidup bermewah-mewah, bahkan ia pernah mengenakan jas tambalan.

Pada 1945, Natsir merupakan aktivis Muslim inklusif yang berperan besar dalam membangun jiwa nasionalisme umat Islam dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Kaki-kaki ke-Indonesia-an dibangun dengan falsafah keagamaan dan kemanusiaan, sehingga Islam bisa tampil sebagai garda depan pembangunan bangsa.

Selain Mohammad Natsir, di antara tokoh-tokoh terkemuka tersebut adalah Tjokroaminoto, H Agus Salim, dan Wahid Hasyim. Tokoh-tokoh ini diakui sebagai aktivis Muslim inklusif yang meneguhkan posisi Islam dalam kancah kehidupan kebangsaan dan kenegaraan.

Buku ini mencoba mengurai peran politik sosok Mohammad Natsir dalam sejarah politik Indonesia, khususnya perannya dalam Orde Lama dan Orde Baru.

Natsir menjadi sangat tenar dalam kancah politik Indonesia tatkala dia menjadi Ketua Umum Masyumi pada 1948. Natsir dikenal sosok yang akomodatif, sehingga mampu menjela tokoh yang bukan saja disegani umat Islam, tetapi juga kaum nasionalis sekuler.

Pada 5 April 1950, Natsir mengajukan mosi integral dalam sidang pleno parlemen, yang secara aklamasi diterima oleh seluruh fraksi. Mosi ini memulihkan keutuhan bangsa Indonesia dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), yang sebelumnya berbentuk serikat.

Natsir seolah menjadi kamus politik Islam bagi aktivis muslim yang aktif di PPP, Golkar, dan PDI. Ia memberikan keteduhan politik, bukan kecurangan dan keculasan.

Peresensi adalah Ali Rif’an, Ketua Umum Forum Lingkar Pena (FLP) Ciputat dan Peneliti The Dewantara Institute, Jakarta.

Komentar

 

 

 

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>