Fenomena Menopause Kaum Adam

Sumber: Kompas, 8 Aprul 2011
Judul buku: VIROPAUSE-ANDROPAUSE; Menopause Laki-Laki
Penulis: Aubrey M. Hill, M.D.
Penerbit: Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Cetakan: I, 2010
Tebal: viii + 296 halaman
Peresensi: M. Romandhon MK*

Selama ini mungkin kita menganggap, hanya kaum hawalah yang merasakan sebuah menopause. Yakni gejolak alamiah dasar, sesuai apa yang dialami kaum perempuan pada umumnya, seperti menstruasi dan perubahan fisik berupa bentuk dada dan lain sebagainya. Memang menopause dalam kajian medis ditujukan dan diartikan sebagai perubahan fisik serta emosional kaum perempuan.

Dimana jika mengacu pada akar katanya menopause sendiri berasal dari bahasa Yunani, meno yang berakar dari kata mensis, dan kata itu merujuk pada siklus menstruasi bulanan perempuan. Sedang kata pause atau berhentinya siklus tersebut merupakan menopause, dan ini merupakan perubahan fisik utama yang terjadi pada seorang perempuan dalam kehidupan paruhbayanya (hal 9). Jika demikian tidak salah, jika menopause sering kali dikaitkan dan hanya menjadi kekhasan perempuan semata.

Namun bagaimana jika ternyata kaum adam (laki-laki) juga mengalami menopause yang dikalim hanya milik para perempuan? Dan seperti apakah bentuk atau gejolak menopause dalam diri laki-laki, apakah sama seperti menopause yang dialami kaum wanita? Rentetan pernyataan di atas inilah yang akan dijawab oleh Aubrey M. Hill, M.D dalam bukunya yang berjudul VIROPAUSE-ANDROPAUSE; Menopause Laki-laki. Buku ini mencoba menguraikan secara terpirinci terkait menopause laki-laki, yang menyangkut perubahan-perubahan emosional dan fisik yang dialaminya pada usia paruhbaya.

Perubahan fisik yang dialami laki-laki sangat bervariasi antara satu dengan lainnya. Gejala andropause secara psikologis seringkali disertai dengan masalah fisik, kadang-kadang masalah psikosomatik, yang menyebabkan si penderita mencari bantuan medis (hal 8). Ketika hal itu dilakukan, si penderita akan mencoba memahai gejolak alamiah dirinya sendiri, yang disebut dengan istilah menopause.

Fenomena menopause kaum adam inilah yang menjadi kajian utama Aubrey M. Hill. Sengat menarik memang, di tengah diskursus yang berkembang bahwa menopause hanya dialami perempuan, namun Aubrey mampu membantah tesis yang menyatakan akan hal tersebut. Di mana, Aubrey dengan sangat sabar dan teliti melakukan riset dan penelitian langsung pada pesien-pasiennya. Hasilnya dapat dilihat bahwa sesungguhnya laki-laki juga mengalami menopause. Inilah yang sekiranya penulis anggap sebagai penemuan fenomenal dibidang keilmuan medis-psikologis kedokteran saat ini.

Aubrey yang berlatarbelakang sebagai dokter keluarga dan seorang konseling di Amerika menelurkan karya yang luar biasa besar. Ini setidaknya menjadi sumbangan besar bagi kemajuan ilmu kedokteran dunia. Dalam bukunya ini, Aubrey menyebutkan bahwa menopause laki-laki dapat diindentifikasi melalui cara medis. Tidak bisa dengan serta merta, kita mendeteksinya secara langsung. Ini artinya, perubahan fisik dan emosional kaum adam lebih rumit dibanding kaum perempuan.

Hal ini sesuai dengan apa yang dijelaskan penulis buku ini, yang memaparkan langkah pertama dalam mengatasi menopause itu sendiri. Yaitu dengan cara mengenali awal kejadiannya (hal 3). Bagaimana proses pengenalan tersebut? Aubrey menerangkan bahwa langkah ini dikatakan ‘mudah tapi sulit’. Semisal, saat usia laki-laki mulai beranjak, bagaimana respon diri sendiri terhadap bertambahnya usia tersebut. Ini artinya, proses kesadaran atau refleksifitas secara psikologis sangat menentukan.

Phobia di Usia Senja

Seringkali budaya masyarakat luas memahami dan mengamini, jika masa muda adalah segala-galanya, dan anggapan itu kian dipertegas dengan adanya frame deduktif yang mengatakan bahwa hilangnya masa muda berarti hilangnya kejantanan (virility), kebahagian, produktifitas dan lain sebagainya. Kondisi inilah yang kemudian menimbulkan phobia (ketakutan-ketakutan yang berlebihan) pada kaum laki-laki. Dampaknya, tak jarang pada diri laki-laki usia paruhbaya selalu diintai rasa cemas dan stres.

Ketika seseorang telah terjangkit rasa stres, biasanya berubahan fisik akan begitu kelihatan mencolok. Dan kebahagiaan yang diidam-idamkan hilang begitu saja seiring usia senjanya. Sigmund Freud bapak psikologi dunia, pernah mengatakan bahwa ketakuatan yang dimunculkan oleh manusia secara berlebihan akan berdampak buruk pada kondisi manusia tersebut. Perlu digaris bawahi, kata ‘buruk’ yang dilontarkan oleh Freud bisa mengacu terhadap keadaan perubahan fisik dan emosional.

Perubahan itulah yang kemudian oleh Aubrey M. Hill, menjadi kata kunci dari menopause laki-laki. Yang mana banyak laki-laki membayangkan tentang kehidupan seksual mereka mengalami penurunan. Sebenarnya, hal ini biasanya merupakan perubahan kecil dalam kemampuan ereksi, tertundanya orgasme, dan penurunan libido (hal 7).

Sesuai apa yang dikatakan Freud, hal tersebut berimbas pada kekhawatiran yang luar biasa. Alhasil, Aubrey menyimpulkan bahwa perubahan-perubahan psikologis yang terjadi pada kehidupan parubbaya tersebut berdampak signifikan. Tentunya, hal itu cukup mengganggu, yang berdampak pada kesehatan fisik dan mental laki-laki.

Mungkin, ungkapan krisis kehidupan paruhbaya sudah tak asing lagi disebagaian besar kalangan orang dewasa. Dan ungkapan ini sesungguhnya sangat berguna karena membantu laki-laki dan perempuan agar menyadari bahwa mereka perlu menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi dalam kehidup2an dan fisik mereka yang sejalan dengan bertambahnya usia mereka. Sesungguhnya menopause antara laki-laki dan perempuan sama pengaruhnya, tetapi beda gejolak apresiasinya.

Sketsa fenomena menopause laki-laki dalam buku ini oleh penulis Aubrey sebenarnya sudah sangat jelas dan mendetail. Dengan pengungkapan gaya redaksional yang mudah dipahami dan ditelusuri. Namun, kesan itu kian berkurang ketika pembaca melihat tidak adanya penjelasan tentang bagaimana pola menopause dalam diri laki-laki remaja.

Seperti halnya seorang remaja putri yang mendapatkan dirinya menstruasi pertama kali. Sebaliknya, hal yang hampir mirip dialami oleh laki-laki remaja yang bermimpi mengeluarkan sperma. Bagaimana respon yang akan dilakukan seorang pemuda itu? Hal inilah yang oleh Aubrey M. Hill tidak disinggung dalam buku ini. Sehingga, pembaca hanya memperoleh informasi yang berkutat pada menopause laki-laki paruhbaya. Padahal selain paruhbaya, menopause juga terjadi di anak-anak dan remaja.

Peresensi bergiat di Padepokan Zainal Arifin Thoha, Yogyakarta

Komentar

 

 

 

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>