Ketika Negara Melalaikan Pancasila

Sumber: Koran Jakarta, 26 April 2011
Judul : Negara Paripurna
Peresensi: Syaefudin Simon
Pengarang : Yudi Latif
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta,
Tahun : I. 2011
Tebal : xviii + 667 Halaman

Ketika politik makin karut marut; ketika kemiskinan makin meluas; ketika kerusuhan makin menyebar; ketika keadilan makin menjauh; ketika moralitas makin membusuk; dan ketika terorisme makin meruyak, muncul pertanyaan: adakah kesalahan yang fatal di negeri ini sehingga semua “kejahatan dan keburukan” itu berkumpul dan menghantamnya? Jawabnya: bacalah buku Negara Paripurna karya Yudi Latif ini.

 

Melalui pendekatan geografi s, antropologis, historis, fi losofi s, dan sosial politis—Yudi tiba pada sebuah kesimpulan: Indonesia adalah negeri yang tengah limbung dan berjalan tanpa arah karena meninggalkan warisan nenek moyang dan founding fathers-nya yang paling berharga, yaitu Pancasila.

Menurut Yudi, Pancasila adalah penjelmaan falsafah bangsa Indonesia yang paling realistis karena berpijak pada proses perjalanan sejarah pembentukan nusantara itu sendiri. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia yang membujur di titik strategis persilangan antarbenua dan antarsamudera, dengan daya tarik kekayaan sumberdaya yang melimpah, Indonesia sejak lama menjadi titik temu penjelajahan bahari yang membawa pelbagai arus peradaban (hlm 3).

Tidak salah jika Bung Karno menyatakan Indonesia adalah taman sari peradaban dunia. Di taman sari peradaban dunia inilah hidup berbagai macam suku bangsa dengan berbagai macam warna kulit, bahasa, dan keyakinan. Bhinneka Tunggal Ika adalah sebuah keniscayaan dalam proses pembentuk bangsa Indonesia. Untuk itu; toleransi, pluralisme, dan ketuhanan yang berakar pada sejarah pembentukan bangsa harus terus menerus dibina dan dijaga eksistensinya. Tanpa itu, tunggulah kehancuran Indonesia.

Meski buku ini mengupas Pancasila dengan menunjukkan relevansinya dengan kehidupan bangsa Indonesia sejak zaman batu (neolitikum) hingga zaman modern, namun pemaparan Yudi tentang tahap-tahap pembentukan nusantara hingga munculnya Pancasila terasa sangat menarik, luas wawasan, penuh argumentasi ilmiah, dan tidak terjebak jargon-jargon politik. Dalam buku ini, Yudi mempertanyakan; bagaimana mungkin dari sila ke-4 dalam praktik pemilu legislatif dan eksekutif dilakukan melalui sistem elektoral dengan perhitungan one man one vote?

Amerika Serikat (AS) yang telah berpengalaman tiga abad dalam berdemokrasi saja sistem pemilunya dengan perwakilan, Indonesia malah sebaliknya. Banyak sekali masalah-masalah aktual yang disorot Yudi dalam bukunya— mulai ketidakadilan ekonomi, ketidakadilan hukum, kacaunya sistem pemerintahan, karut marutnya sistem pendidikan, lemahnya sistem pertahanan, dan lain sebagainya, yang semuanya terjadi akibat dilalaikannya Pancasila. Dalam buku ini, Yudi mampu mengemas kajian komprehensif tersebut dengan gaya tulisan populer dan hidup.

Peresensi, Syaefudin Simon, periset Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LaKIP), Jakarta

Komentar

 

 

 

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>