Suara Hati Seorang Perempuan

Sumber: Koran Jakarta, 06 Mei 2011
Judul : Perempuan Suarakan Hatimu! Motivasi Diri bagi Perempuan
Penulis : Rose Heart
Penerbit : Rose Heart Publishing
Tahun : I, Maret 2011
Tebal : 506 halaman

Mengungkapkan isi hati bagi seorang perempuan pada masyarakat dalam budaya Timur adalah tabu. Padahal, banyak galau dalam pikiran perempuan yang ingin dia teriakkan. Khawatir dicap tidak “baik” menurut adat dan tata krama yang dijunjung tinggi, perempuan menyimpan rapat-rapat kegalauan itu. Tanpa disadarinya, hal itu menjadi penyakit yang melukai hati.

Melalui buku Perempuan Suarakan Hatimu! ini, Rose Heart atau Risa Amrikasari ingin mengajak kaum perempuan untuk tidak perlu khawatir bila ada ajakan bagi kaumnya untuk berpikiran terbuka dan berani ambil sikap demi kebahagiaan dirinya sendiri sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Ajakan yang disuarakan melalui 50 artikel yang pernah dia tulis dalam blog pribadinya, www.perempuanindonesia. org itu, bukan bermaksud untuk mengajak kaum Hawa melawan arus atau melawan kodrat sebagai perempuan, namun ajakan itu dirasa perlu untuk mengajak perempuan agar lebih mencintai dirinya sendiri sehingga pada akhirnya bisa lebih mencintai orang lain.

Tulisan yang dibuat dengan gaya penuturan kepada sahabat ini mengungkap kebiasaan-kebiasaan masyarakat, dalam keseharian. Kebiasaan itu ditelan begitu saja, kendati menyakitkan dan membuat perempuan terpojok tak berdaya. Melalui pengembaraan batin dalam siklus kehidupan yang dia alami, Risa yang kini adalah orang tua tunggal, mencoba mengupas satu per satu permasalahan yang akrab dalam pergaulan antara perempuan dengan lingkungan masyarakat, juga perempuan dengan pasangan hidupnya.

Pengembaraan Risa diperkaya dengan pengalamannya menikmati hidup dalam masyarakat Barat yang lebih terbuka. Sehingga dia bisa memberikan sudut pandang lain, layaknya sebuah tips tatkala perempuan menghadapi situasi yang membuatnya kurang nyaman, bahkan mengarah kepada kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang tak pernah disadarinya. Dalam bab satu, Risa membuka buku ini dengan cerita tentang pertanyaan lazim bagi perempuan yang sudah cukup umur namun belum juga menikah: Kapan Nih Undangannya? Sekali, dua kali, tiga kali, mungkin tak jadi soal.

Tapi bagaimana jika pertanyaan seperti itu terlalu sering dilontarkan? Pertanyaan tersebut jelas mengganggu Risa yang pasti juga akan mengganggu kaum lajang yang sudah cukup umur untuk kawin bila mendapatkannya. Melalui buku ini, Risa mengajak siapa pun yang sering melontarkan pertanyaan itu kepada teman atau keluarga atau orang-orang yang dikenalnya dengan pertanyaan itu untuk menelaah kembali, apakah pertanyaan semacam itu penting? Risa mengajak pembaca menempatkan diri dalam posisi orang yang mendapatkan pertanyaan tersebut, dan mempersilakan menjawab sendiri pertanyaan itu.

Bisa jadi tak akan ada jawaban ditemukan, hanya beban yang dirasakan. Tulisan lepas yang kemudian digabung menjadi satu alur dalam siklus kehidupan kaum perempuan ini juga masuk ke ranah pribadi yang lebih intim. Tentang pasangan suami istri yang sudah tidak mesra lagi. Mengapa justru dalam hubungan yang halal, kemesraan tidak lagi dipertontonkan? Sehingga ada anekdot, pasangan tua yang terlihat mesra di tempat umum dipastikan adalah pasangan selingkuh. Memprihatinkan.

Peresensi adalah Titi Kusrini, pemerhati masalah perempuan.

Komentar

 

 

 

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>