Kembalinya Sang Pujangga

sangnabi1Sumber: Kompas, Maret 2009
Peresensi: Akhmad Sekhu
Judul Buku: Kembalinya Sang Nabi
Penulis: Hajjar Gibran
Penerjemah : Richard Oh
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Cetakan: Januari 2009
Tebal: xxii + 100 halaman

Sebentar lagi, sejenak istirah di atas angin dan seorang perempuan akan melahirkan aku…

Demikian kutipan dari bab terakhir Sang Nabi yang ditulis oleh Kahlil Gibran. Sang Nabi disebut sebagai mahakarya Kahlil Gibran. Di dalamnya terdapat sebuah janji, suatu ketika ia akan kembali. Janji itu kini telah ditepati. Pada Hajjar Gibran, ia menitis dan meneruskan mutiara-mutiara kehidupannya. Demikian yang tersirat dari buku berjudul Kembalinya Sang Nabi yang ditulis Hajjar Gibran.

Siapa sebenarnya Hajjar Gibran? Dalam buku ini ia menganggap Kahlil Gibran sebagai kakek karena tidak tahu sebutan apa yang tepat untuk menggambarkan hubungan keluarganya. Apakah benar ia cucu “sang nabi” itu?

Diceritakan, ia bertemu dengan Wahib Keyrous, kurator museum Kahlil Gibran di Beshari, Lebanon, untuk mempelajari silsilah keluarga Kahlil Gibran dan mengklarifikasi hubungannya. Berkas-berkas di situ mencatat sejarah beberapa generasi dan lima saudara Kahlil Gibran, yang ternyata masing-masing memproduksi satu cabang keluarga besar. Kahlil Gibran dan dirinya adalah sehelai daun di cabang-cabang terpisah dari sebuah silsilah keluarga yang sama.

Hajjar Gibran yang terpukul oleh kematian kakaknya pernah terpuruk dalam lubang kegelapan sampai ia masuk penjara. Hidupnya berubah ketika ia mengalami perjalanan spiritual yang membawanya melihat kembali asal-usulnya dari keturunan Kahlil Gibran. Melalui seorang laki-laki yang kerap hadir ketika keraguan menghampirinya, ia mendapat pencerahan dan ia sangat yakin bahwa laki-laki itu adalah Kahlil Gibran yang menitis dirinya sehingga kemudian ia dapat berkarya.

Kalau Kahlil Gibran, tentu semua orang sudah tahu, bahwa karya-karyanya diakui karena keindahan dan kedalaman maknanya. Dengan bahasa alegoris, esoteris, dan mistis, yang khas dunia Timur. Bersama Rabindranath Tagore, ia dianggap sebagai duta-duta budaya oriental yang menghadirkan khazanah Timur yang eksotik dan mistis kepada dunia Barat Modern.

Lahir di Besgari, Lebanon 1883, orangtuanya memberi nama Gibran, persis seperti nama kakeknya sebagai adat kebiasaan orang-orang Lebanon waktu itu. Ayahnya sendiri bernama Khalil Gibran. Maka nama lengkapnya menjadi Gibran Khalil Gibran atau Jubran Khalil Jubran, sedangkan kalangan bukan Arab dipakai nama “Kahlil Gibran” dengan mengubah letak huruf “h” atas saran gurunya di Amerika yang sangat mengagumi kejeniusannya. Kahlil Gibran dianggap penyair Arab perantauan terbesar.

***

Buku “Sang Nabi” karya Kahlil Gibran adalah sebuah novel puisi yang bercerita tentang seorang yang bernama Al Mustafa, yang dalam bahasa Arab berarti “Yang Terpilih”. Setelah mengasingkan diri di sebuah pulau terpencil selama dua belas tahun, Al Mustafa yang juga Sang Nabi menuju sebuah kota bernama Orphalese dan mengajari manusia tentang hakekat kehidupan.

Buku “Kembalinya Sang Nabi” karya Hajjar Gibran ini adalah juga novel puisi, tapi dengan gaya bercerita memakai sudut pandang aku sebagai Seseorang Tak Bernama yang “berdialog” dengan Sang Nabi untuk meneruskan mutiara-mutiara kehidupan tentang arti cinta, kebenaran, hasrat, rahmat, seksualitas, keberanian, kebahagiaan, dan kasih.

Buku setebal seratus halaman itu terdiri dari tujuh belas bagian yang dimulai dari bab berjudul Fajar, yang menyiratkan terbitnya sebuah harapan. Simaklah penuturannya yang antara lain berbunyi begini; Orang tuaku dengan cinta mengatakan, walaupun aku lahir dari tubuh mereka, jiwaku dikandung oleh kerinduan abadi. Hal ini mengingatkan kita pada “Sang Nabi”-nya Kahlil Gibran perihal anak keturunan: Anakmu bukan milikmu. Mereka putera-puteri Sang hidup yang rindu pada dirinya sendiri.

Kemudian, kedua, Keyakinan, kita menyimak: Tanpa keyakinan, kamu bagaikan Sehelai bulu dihembus oleh angin, berkelana tanpa tujuan. Tapi kalau kepercayaanmu terperangkap dalam keyakinanmu, kamu bagaikan seekor burung tersangkar yang bisa merentangkan sayap namun tidak bisa terbas bebas.

Demikian juga dengan yang ketiga, Kebenaran, kita bisa menyimak, misalnya: Kebenaran adalah jurang paradoks yang ditemukan secara kebetulan olehmu, dan dia di sana, tersenyum padamu, tanpa polesan dan irasional seperti cinta. Sebuah kebenaran yang terucapkan berdiam hanya sesaat di bibirmu. Dan sebuah kebenaran yang teringat bukanlah kebenaran; ia adalah perenungan yang sudah lewat dalam kaca waktu.

Dan seterusnya, bagian demi bagian, seperti Hasrat; Rahmat; Seksualitas; Perubahan; Visi; Kelimpahan; Pengkhianatan; Pengampunan; Keberanian; kebahagiaan; Kasih; Perjalanan Kembali; Pencerahan; sampai dengan Kenangan. Kesemua uraiannya bisa dikatakan bagaikan “harta karun terhebat yang akan kamu temukan berada dalam kasih yang kamu bagikan.”

***

Membaca “Kembalinya Sang Nabi,” kita seperti mendapatkan kembalinya kata-kata mutiara sang pujangga. Meski pencapaian estetikanya tidak sama, tapi paling tidak cukup berhasil untuk menyebut telah terjadi regenerasi. Antara Kahlil Gibran dengan Hajjar Gibran, yang memang sama-sama menyandang nama Gibran, seperti melakukan estafet pergantian dalam dunia kapujanggan. Sebuah dunia yang tidak mudah dicapai oleh setiap orang.

Menurut Budi Darma, apabila pengarang sudah menjadi mitos, pengarang lebih penting daripada karyanya. Sementara itu, pengarang menjadi mitos merupakan salah satu ciri zaman modern. Kita lebih banyak menggali apa dan siapa pengarangnya, dibanding mencermati karya pengarang itu.

Dalam hal ini mengenai Kembalinya Sang Nabi adalah keniscayaan. Kahlil Gibran sudah menjadi mitos, tapi karya-karyanya juga penting dan mutiara kata-katanya sering menjadi bahan rujukan. Tapi bagaimana dengan Hajjar Gibran, penerusnya? Biarlah sang waktu yang akan menjawabnya.

Akhmad Sekhu, pengamat buku, tinggal di Jakarta dan Tegal.

Komentar

 

 

 

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>