Sukses Kuliah di Negara-Negara Islam

belajarSumber: Republika, 05 April 2009
Penulis: Abdul Hayyie al-Kattani
Terbit : Februari 2009
Penerbit: Gema Insani Press (GIP)
ISBN: 978-979-077-103-1
Halaman: 288

Sejak berpuluh tahun lalu, minat para pemuda Indonesia untuk belajar mengenai keislaman di Timur Tengah, terutama Mesir dan Arab Saudi, memang cukup tinggi. Sejarah telah membuktikan bahwa Timur Tengah merupakan pusat dan penghasil peradaban ilmu. Sebut saja Mesir dengan Universitas Al-Azhar-nya dan Arab Saudi dengan Uiversitas Ummul Qura-nya.

Kemudian minat para pemuda Indonesia melebar ke negara-negara Islam lainnya, seperti Sudan dan Pakistan. Belakangan banyak pula pemuda dan sarjana Indonesia yang belajar Islam di sejumlah universitas di Malaysia. Kini minat tersebut makin tinggi, sejalan dengan makin terbukanya arus informasi global dan makin luasnya jaringan di antara para alumnus universitas-universitas di negara-negara Islam.

Tiap-tiap negara tersebut menerapkan sistem dan peraturan yang khas. Karena itu, penting bagi setiap pemuda atau sarjana Indonesia yang mau belajar atau melanjutkan studi negara-negara tersebut memahami berbagai hal yang terkait dengan studi di negara yang ditujunya agar kuliahnya sukses.

Buku ini berupaya memberikan panduan lengkap tentang seluk-beluk pendidikan tinggi di negara-negara Islam, seperti Mesir, Arab Saudi, Sudan, Suriah, Yordania, Kuwait, Tunisia, Akjazair, Maroko, Pakistan, India, dan Malaysia. Para penulisnya adalah pribadi-pribadi yang menuntut ilmu di negara-negara tersebut. Dengan demikian, akurasi dan kelengkapan informasi yang mereka sampaikan sangat memadai dan akan sangat membantu para pemuda Indonesia yang ingin mengambil kuliah di negara-negara Islam, baik program sarjana maupun pascasarjana.

Informasi yang disajikan dalam buku ini meliputi antara lain lembaga-lembaga pendidikan yang terdapat di negara-negara Islam tersebut yang  menerima mahasiswa asing, persiapan yang harus dilakukan sebelum berangkat ke negara tersebut, fakultas-fakultas/program yang menerima mahasiswa asing, cara pendaftaran, sistem belajar, bahasa pengantar, kesempatan mendapatkan beasiswa, maupun biaya hidup.

Sistem perkuliahan misalnya. Di Mesir, terdapat perbedaan antara universitas yang satu dan universitas lainnya. Baik sistem perkuliahan S1, S2, maupun S3. Begitu pula universitas-universitas di negara-negara Islam lainnya. Ada yang menerapkan sistem paket, ada pula sistem SKS. Ada yang satu tahun terdiri dari tiga semester, seperti di Yordania. Begitu pula dengan standar kelulusan dan batas maksimal ujian dan lama kuliah yang memungkinkan seorang mahasiswa terhindar dari kemungkinan drop out (DO).

Biaya hidup
Dalam buku ini juga diuraikan berapa biaya yang harus dikeluarkan oleh para calon mahasiswa untuk mengambil program S1, S2, maupun S3. Termasuk biaya sewa apartemen dan biaya hidup lainnya (makan, listrik, transportasi, dan sebagainya).

Namun, secara umum biaya kuliah maupun biaya hidup di negara-negara Islam tersebut relatif murah. Biaya kuliah hanya beberapa ratus dolar AS per tahun, sedangkan biaya hidup rata-rata hanya sekitar 100-200 dolar per bulan. Itu pun bisa tertutupi atau sebagian bisa tertutupi,  manakala mahasiswa tersebut memperoleh beasiswa yang banyak bertebaran, baik dari pemerintah, universitas maupun lembaga-lembaga swasta di negara-negara tersebut.

Kapan waktu pendaftaran dibuka untuk tiap-tiap universitas di tiap-tiap negara juga diungkapkan, termasuk persyaratan apa saja yang harus disiapkan. Dalam hal ini juga dijelaskan persyaratan hafal Alquran untuk kuliah di universitas dan jenjang tertentu. Misalnya, untuk masuk S2 Universitas Al-Azhar harus hafal minimal delapan juz Alquran. Ada program tertentu yang harus hafal 30 juz. Juga ditegaskan pentingnya penguasaan bahasa Arab dan bahasa Inggris sebagai salah satu syarat lulus tes masuk.

Tak hanya mengupas segala hal yang terkait dengan sistem akademik, buku ini juga menyajikan informasi sosio-kultural negara yang bersangkutan. Hal ini akan sangat membantu para pemuda Indonesia yang menuntut ilmu di negara tersebut untuk beradaptasi dengan kehidupan negara setempat, baik dengan kondisi geografis, iklim maupun masyarakatnya. Mesir, misalnya, masyarakatnya terkenal memiliki kepedulian yang tinggi dan kedermawanan. “Kepedulian terhadap orang-orang yang membutuhkan tampak sekali dengan banyaknya lembaga sosial di Mesir, yang hingga saat ini mencapai 22.000 lembaga yang terdaftar resmi di pemerintah.” (hlm 23).

Tak lupa para penulis itu juga menyebutkan kiat-kiat sukses kuliah di negara-negara Islam tersebut. Semua pengetahuan tersebut sangat penting bagi para pemuda Indonesia  yang akan menuntut ilmu di negara-negara Islam tersebut maupun keluarganya (khususnya menyangkut masalah biaya). Dengan memiliki bekal pengetahuan yang memadai mengenai seluk-beluk pendidikan tinggi di negara yang dituju, juga sosio-kulturalnya, maka peluang sukses akan terbuka seluas-luasnya. ika

Komentar

 

 

 

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>