Nestapa “Gay” di Negeri Syariat

gaySumber: SinarHarapan, Maret 2009
Judul Buku : Biarkan Aku Memilih; Pengakuan Jujur Seorang Gay yang Coming Out
Peresensi: Murizal Hamzah
Penulis : Hartoyo dan Titiana Adinda
Halaman : 134 halaman + xxx
Penerbit : Elex Media Komputindo (Gramedia Group)
Terbit : Februari 2009

Tujuh polisi menghajar dua pemuda tanpa ampun. Belum puas, anggota Polisi Sektor Banda Raya, Banda Aceh, memaksa pemuda itu mencopot semua baju dan celana. Seorang polisi menodongkan senjata laras panjang ke anus pemuda itu. Kemudian seorang pemuda dipaksa memegang penis rekannya hingga ereksi. Tiga puluh menit kemudian, pukul 02.00 WIB, mereka digiring ke halaman Markas Polisi Sektor (Mapolsek) dengan berjongkok. Lalu dimandikan dengan selang air.

Ketika seorang pemuda ingin buang air kecil, polisi meminta dia untuk kencing di atas kepala rekannya. “Proses itu berlangsung selama 15 menit. Aku sangat marah, tapi tidak bisa mampu berbuat apa-apa,” tulis Hartoyo dalam buku bersampul putih ini. (hlm. 84-85).

Apa kesalahan dua pemuda itu? Dalam buku inilah Toyo–panggilan akrab Hartoyo– memaparkan secara ringkas kisah dirinya, seorang gay yang tinggal di negeri syariat. Tragedi penyiksaan ini diawali pada malam 23 Januari 2007 di Banda Aceh. Kala itu, pria dari Binjai Sumatera Utara ini sedang asyik memadu kasih di kosnya dengan pasangannya Bobby (nama samaran), warga Aceh. Warga menangkap mereka di lantai dua Kedai Kopi Pesona di Lamlagang Banda Aceh.

Dalam sekejap, pukulan bertubi-tubi mendarat di sekujur tubuh gay ini. Mereka dianggap telah mencemarkan desa tersebut. Kemudian, warga bingung, mau dibawa ke mana dua gay ini? Jika diusung ke Kantor Waliyatul Hisbah alias polisi syariat–lembaga ini hanya ada di Aceh–warga khawatir esok nama desa ini masuk koran dan ini sama artinya mendatangkan aib. Akhirnya, polisi dipanggil untuk menjemput Toyo dan Bobby.
“Gay” Sejak SD

Di lembaga pengayom masyarakat inilah, dua gay itu kembali disiksa. Esok paginya, mereka dibebaskan setelah penggiat kemanusiaan datang. Seminggu kemudian, setelah didukung oleh berbagai lembaga pembela HAM, perempuan di Jakarta dan Aceh, Toyo yang bekerja di Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di Banda Aceh pascatsunami 2005 ini melapor balik kekerasan yang dilakukan oleh polisi. Setahun kemudian, Pengadilan Negeri Banda Aceh pada 8 Oktober 2008 melakukan persidangan dengan empat terdakwa anggota polisi. Vonis hakim, pelaku dihukum tiga bulan penjara dengan masa percobaan enam bulan serta denda Rp 1.000. Pelaku tidak harus menjalani hukuman di penjara karena dihukum percobaan.

Dari kasus ini juga, Toyo memahami ada teman-temannya di lembaga kemanusiaan yang tetap mendukung dia atau menceramahinya. Padahal, sebagai lembaga kemanusiaan, mereka harus menghargai berbagai perbedaan, termasuk memilih menjadi gay. Karena itu, dia mempertanyakan lembaga-lembaga kemanusiaan di Aceh yang mengesampingkan isu penyiksaan dirinya karena berkaitan dengan seksualitas. Apakah seorang gay tidak layak untuk hidup aman di bumi Serambi Mekah?

Tak diragukan lagi, Toyo merupakan gay sejati. Sejak kecil hingga kini, dia senang dengan laki-laki. Masa kecil dilalui dengan sukacita sekaligus pada masa itu juga dia merasakan diri sebagai gay. Ketika kelas 5 SD, dia menawarkan saudaranya untuk dipijit. Toyo kecil tidak paham, mengapa dirinya senang mengamati pria bugil. Hingga jari Toyo pun meremas-reman penis saudaranya, menciumnya. Anehnya, saudaranya, membiarkan aksi itu. Sejak itulah, rasa suka dengan laki-laki terus dirasakan dan semakin besar (hlm 8).

Inspirasi bagi Keluarga
Menyimak lembaran demi lembaran, termasuk empat halaman berwarna foto Toyo di berbagai daerah, pembaca diberi kebebasan untuk memahami cara pikir dan bertindak seorang gay. Dalam pengantar penulis, secara terus terang pengalaman ini disampaikan bukan untuk mencari “pembenaran” dan meminta belas kasihan orang. Apalagi mengajak orang lain memilih menjadi gay.

Penulis mengakui, buku yang mengisahkan pengalaman hidup seorang gay dari sisi kemanusiaan selama ini belum banyak diterbitkan. Toyo menuturkan, menjadi gay adalah sebuah pilihan kejujuran hidup. “Buku ini menjadi inspirasi bagi keluarga yang mulai tahu bahwa ada anggota keluarganya yang menjadi bagian kelompok lesbian, gay, biseksual, transgender, interseks, dan quee (LGBTIQ). Bagaimana bersikap manusiawi terhadap anggota keluarga,” tulis Toyo yang menghabiskan masa kuliah selama lima tahun di Universitas Syiah Kuala Banda Aceh.

Sejatinya, buku ini layak dibaca oleh siapa saja yang ingin mengetahui dunia gay, termasuk juga di Aceh yang membentuk komunitas sendiri. Yang sangat menakutkan bagi seorang homeseksual adalah keluar dari persembunyian dan memproklamasikan kepada publik bahwa dirinya adalah gay. Dalam hal ini, Toyo telah memperlihatkan diri bahwa Indonesia tidak hanya memiliki keragaman suku bangsa, agama, budaya, tapi juga keragaman seksual. Dan tentu saja, semua orang bisa tinggal di seluruh pelosok Bumi Ibu Pertiwi ini. n

10 comments to Nestapa “Gay” di Negeri Syariat

  • anjar

    aduh….jgn smpe dech…para pemudh memlh hdp mnjd seorg gay….krn gay dpt mersk msa dpn kte…

  • anjar

    pra pemuda hti2 klw baca buku ini….jgn smpai jth kdlm dunia gay yg yg nista itu, jdilh seorg pria sejti N normal…

  • suatu kebiasaan atau kesenangan yang buruk jangan dibiasakan dan dituruti, harus bisa menahan serta berpuasa ingat kisah Nabi Luth as dan kota POMPAY di Romawi yang bangsa itu di binasakan oleh ALLAH.

  • rey

    bicara bisa dengan mudah seperti itu, tanpa mau tahu bagaimana perasaan orang yg benar2 mengalaminya….siapa juga yang mau penyakit itu bersarang dlm dirinya….semua juga ingin normal sperti lelaki pada umumnya..tapi pada kenyataanya begitu sulit.
    gk usah terlalu men-judge.dalamnya laut bisa terukur, hati manusia siapa tahu.

  • non

    selayaknya penyakit, pasti ada obatnya. begitu pula dalam hal ini, jika memiliki disorientasi seksual merupakan suatu penyakit maka obatnya adalah kembali pada hakikat dan kodrat sbg seorang lelaki, bukan membiarkan diri dan pikiran terbenam dlm hal yang sudah jelas salah dan dilarang dalam agama. memang tidak mudah, namun tidak ada yang tidak mungkin jika mau benar2 berusaha. toh sudah banyak buktinya, gay/lesbian yg kembali pada takdirnya, pria atau wanita sejati.semoga toyo dan lelaki gay atau wanita lesbian lain diberi hidayah untuk kembali pada kodratnya msg2. amin.

  • Messy

    Syariat justru melindungi seseorang dari disorientasi fitrahnya. Dan fitrahnya toyo tentu saja sebagai laki2. Kejadian yg menimpanya adalah bentuk ‘rajam’ di dunia sebelum kelak nanti diadili di hari pembalasan. Orang2 sprti Toyo perlu pembinaan. Dikembalikan pd fitrahnya menjadi laki2. Bukan malah asik masyuk terlena dengan ke-gay-an nya. Dan masyarakat yg melihat itu jelas sebagai penyakit. Semoga toyo2 lainnya bisa memperoleh hidayah Allah Swt.

  • piet

    Gay adalah penyakit, Zaman nabi Luth Gay menimbulkan adzab dunia yg sangat pedih. Aga Nasrani juga mengutuk perilaku Gay. Kenapa LSN justru melindungi kesalahan dan memutar balikan fakta dg menyebut mrk adalah korban? Propaganda apakah yg akan dibuat?

  • dilihat dari sisi manapun, tidak ada yang bisa membenarkan homosekskual, kecuali pandangan dari pelakunya sendiri. permasaahan ini menjadi sangat menarik buat aku dan bukan sebagai hal yang menjijikan apalagi tabu untuk dibicarakan. aku pikir, disitu ada salah satu bentuk dan cara Tuhan (Alloh, coz aku muslim) untuk memaksa kita mau untuk berfikir dan belajar. mengapa di saat yang sama Tuhan memberikan larangan homoseksual namun di saat yang sama pula ada orang yang dilahirkan dengan jiwa dan rasa yang tak sesuai dengan kelaminya. tentunya dalam situasi seperti itu tak seharusnya kita lebih mmeilih untuk melegitimasi perasaan dan penyimpangan dari fitrah dan larangan Tuhan sebagai orang yang telah mengalami proses beriman kepdaNya. karena sama saja kita menyampingkan Tuhan. lalu bagaimana dengan mereka yang menglkami dilema seksualnya? pun kita harus adil kepada mereka. beri ruang kepada mereka untuk bisa berfikir atas orientasi sekskual mereka. beri mereka ruang untuk dapat berdiskusi, mencari, dan berkeluh. yang diperlukan justru bukan lingkungan yang tabu terhadapa disoriantasi mereka tapi lingkungan yang sangat terbuka bukan untuk menerima, tapi untuk saling meluruskan. bukan menghukum mereka dengan cara yang tak manusiawi yang dilakukan oleh aparat2 tersebut. karena, saat kita melakukan itu, kita menjadi tak lebih baik dari para pelaku yang dianggap hina.masih ada kesombongan pada diri kita bahwa kita lebih baik dari para pelaku

  • edwar hero hero

    senang sesaat susah seterusnya

Komentar

 

 

 

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>