Ketika Barat Menginspirasi Timur

westSumber: Jawa Pos, April 2009
Peresensi: Hujuala Rika
Judul Buku : East Wind, West Wind
Penulis : Pearl S. Buck
Alih Bahasa : Lanny Murtihardjana
Penerbit : Gramedia Pustaka Tama
Cetakan : I, Februari 2009
Tebal : 238 halaman

SEBAGAI seorang anak perempuan yang terlahir dengan latar belakang bangsawan, Kwei-lan merasa telah mempelajari semua hal yang harus dilakukan seorang istri untuk memenangkan hati suaminya. Tidak hanya masak dan berdandan saja, tapi ia juga telah memenuhi standar kecantikan di mana seorang gadis semenjak kecil harus mengikat kakinya sehingga kaki-kakinya menjadi pendek dan mungil. Namun, kaki-kaki mungil, pintar memasak dan berdandan tidak cukup untuk memenangkan hati suaminya yang telah mengarungi empat lautan itu.

Begitulah kurang lebih isi novel yang diusung Pearl Sydenstricker Buck, penulis Amerika yang mendapatkan hadiah Nobel Sastra 1938. Penulis yang biasa menyingkat namanya menjadi Pearl S. Buck ini tinggal di Tiongkok sejak kecil. Hal inilah yang membuat karya-karyanya -seperti Madame Wu, Surat dari Peking, dan Maharani- sarat akan budaya dan nilai-nilai Tiongkok. Karya-karya Pearl S. Buck secara khusus memotret kehidupan perempuan Tiongkok dan perjuangan mereka pada saat itu dalam masyarakat Tiongkok yang sangat patriarkis.

Novel ini merupakan novel debutan Pearl S. Buck yang berseting 1930-an. Secara bentuk, novel ini terasa begitu familiar dengan pembaca. Pembaca seolah benar-benar dibawa terbang menyusuri setiap kalimat demi kalimat. Hal itu karena penggunaan the first person point of view ”aku” dalam novel ini. Kata ”aku” yang merujuk pada karakter utama Kwei-lan dan kau yang merujuk pada Saudari bertebaran di setiap halaman novel ini. Selain itu, gaya penceritaan epistolary atau bentuk surat membuat novel ini menjadi tidak biasa. Novel yang dibuka dengan kalimat, inilah yang bisa kukatakan kepadamu, Saudariku (hlm. 9) –ditujukan kepada seseorang yang dipanggil Saudariku oleh karakter utama Kwei-lan– langsung membuat perhatian pembaca tersedot.

Hal lain yang tidak kalah menarik dari unsur bentuk adalah isi novel yang begitu enchanted. Kisah suami istri yang menikah kemudian punya anak sudah jamak terjadi dalam kehidupan. Namun kisah Kwei-lan dan suaminya membuat kita terpengarah akan kompleksnya konflik yang dihadapi pasangan ini. Kwei-lan adalah representasi wanita Tiongkok konvensional yang harus mengalami cultural chaos dengan suaminya yang juga asli Tiongkok tapi ber-mind-set Barat. Tidak mudah baginya untuk menghadapi dan beradaptasi dengan suami yang secara fisik adalah orang Tiongkok dengan ”pikiran orang seberang lautan”. Bagi Kwei-lan, lelaki yang dikenalnya sejak ia berumur empat tahun itu tak ubahnya makhluk alien dari planet lain yang tak ia kenali. Lihatlah bagaimana respons Kwei-lan tentang suaminya itu pada pertemuan pertama mereka. Namun, begitu ia masuk mengenakan pakaian asing yang aneh itu, aku tak mampu mengucapkan kata-kata itu. Mungkinkah aku telah menikah dengan orang asing? Ia jarang berkata-kata dan pandangan matanya kepadaku hanyalah sekilas, meskipun aku mengenakan pakaian satin merah muda persik dan jepit bertatahkan mutiara di rambutku (hlm. 11).

Novel ini sedikit memberi kejutan kepada pembaca. Suami Kwei-lan yang awalnya digambarkan sebagai sosok yang dingin dan acuh tak acuh, tiba-tiba berubah menjadi sosok yang begitu konsen akan kebebasan istrinya dari belenggu tradisi dan mistis Tiongkok yang kolot. Di sini, suami adalah sang ”feminis” pendobrak kungkungan. Berbekal otak Barat dan ilmu kedokteran, sang suami sedikit demi sedikit membantu Kwei-lan untuk bebas dari masyarakatnya yang patriarkis.

Perubahan pertama yang dilakukan suami adalah membebaskan Kwei-lan dari kewajiban ”melayani” keluarga pihak lelaki terutama ibu suaminya dengan membawa Kwei-lan tinggal terpisah dari mereka. Menurut adat, setelah menikah Kwei-lan adalah milik suami dan keluarga sang suami. Hal ini membuat Kwei-lan terkejut karena ia menganggap bahwa apa yang dilakukan suaminya melanggar adat istiadat. Dalam novel ini, Kwei-lan mengatakan, suamiku berani mengatakan bahwa ibunya yang terhormat itu punya sifat diktator, dan ia tidak mau kalau istrinya dijadikan pelayan di rumah itu (hlm. 39).

Selain itu, sang suami juga meminta Kwei-lan untuk melepaskan kaki-kakinya dari ikatan menahun yang ia lakukan demi sebuah standar kecantikan kolot yang menyiksa. Awalnya, Kwei-lan yang telah lama dicuci otaknya oleh tradisi, melakukan pemberontakan. Ia merasa limbung karena bahkan kakiku yang terbungkus sepatu dengan sulaman indah pun tidak mampu menyenangkan dia, bagaimana mungkin aku bisa memenangkan cintanya? (hlm. 53). Namun, setelah pulang dari rumah ibu kandungnya, Kwei-lan memutuskan untuk menuruti kemauan suaminya dan ia merasa lebih sehat dan lincah.

Tidak tanggung-tanggung, di zaman di mana masyarakat menganggap bahwa anak lelaki adalah pembawa keberuntungan, sang suami alih-alih mendukung Kwei-lan untuk melahirkan anak lelaki, ia malah membebaskan Kwei-lan untuk memiliki anak perempuan. Yang lebih melegakan Kwei-lan lagi, sang suami yang modern dan berpendidikan Barat itu tidak tertarik untuk berpoligami atau mengambil selir seperti yang dilakukan para pria Tiongkok pada zaman itu (termasuk juga ayah Kwei-lan) terutama jika sang istri tidak mampu melahirkan bayi lelaki.

Banyak cultural chaos yang terjadi dalam rumah tangga pasangan ini yang berbuah manis pada akhirnya. Perubahan Kwei-lan yang akhirnya perlahan-lahan menerima pemikiran Barat yang diusung suaminya patut untuk disimak. Sebagai seorang wanita bangsawan Tiongkok yang dibesarkan dalam lingkungan yang kolot, alih-alih untuk mengubah diri, memiliki pemikiran yang sedikit modern tentang sesuatu akan dianggap sebagai tidak bermartabat. Oleh karena itu, peran sang suami yang sedikit memaksa Kwei-lan untuk mengubah cara berpikir adalah hal yang patut dirayakan. Perubahan itu membawa ia kepada apa yang disebut sebagai pencerahan feminis.

Apa yang terjadi pada Kwei-lan yang Tiongkok itu hampir mirip dengan apa yang terjadi dengan Kartini di Jawa. Kartini yang hidup sebagai bangsawan dan dibesarkan dengan tata cara bangsawan Jawa kuno dan kolot juga mendapat suntikan pemikiran ala Barat dari sahabat-sahabatnya, yaitu Tuan dan Nyonya Abendanon, Nyonya Ovink-Soer, Nona Estella H. Zeehandelaar dan Nellie van Kol. Pemikiran ala Barat yang diterima Kartini melalui surat-suratnya para sahabat membuat pemikirannya tentang wanita Indonesia semakin matang. Baginya, surat-surat kepada sahabatnya adalah saluran di mana ia dapat mencurahkan segala isi hatinya. Sama halnya dengan Kwei-lan, suami baginya adalah tempat ia dapat bertanya dan berpendapat dengan bebas tanpa perlu menundukkan kepala malu-malu, seperti yang diamanatkan ibunya: di hadapan lelaki, seorang perempuan harus tetap berdiam diri bagaikan bunga dan mengundurkan diri secepat mungkin tanpa bertanya-tanya (hlm. 10).

Kwei-lan dan Kartini adalah dua wanita Timur yang sama-sama mengalami cultural chaos. Pemikiran Barat yang disuapkan suaminya pada Kwei-lan membuatnya bertanya tentang arti keperempuanan yang diusung adat istiadat kolot Tiongkok. Sama halnya dengan Kartini yang Jawa, Barat membantu ia membebaskan diri dari kungkungan kolot. Melalui Barat, Timur akan terlihat begitu jelas. Dengan begitu mata hati akan dengan mudah terbuka untuk melihat yang sebenarnya. (*)

1 comment to Ketika Barat Menginspirasi Timur

Komentar

 

 

 

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>