Melongok Belitong Lewat Mata Putri Tiongkok

melongokbelitongJudul : Yin Galema: Kisah Cinta dan Pengembaraan Putri Tiongkok di Daratan Belitong pada abad ke-17
Sumber: Ruang Baca Koran Tempo, 26 Oktober 2009
Penulis : Ian Sancin
Peresensi: Denny Ardiansyah
Penerbit : Hikmah (PT Mizan Publika)
Tahun Terbit : Juli 2009
Tebal : vii + 589 Halaman

Melayu tidaklah tunggal. Ia terbentuk dari jamak gugusan. Melalui novel bertebal 589 halaman ini, Ian Sancin membuka selubung salah satu gugusan Melayu, yakni sejarah dan budaya Kerajaan Balok di Belitong. Novel pertama Ian Sancin ini sukar untuk tak beroleh perhatian serius dari pencinta sastra Indonesia, karena kompleksitas cerita nan apik, karakter penokohan yang kuat dan lengkapnya data historis.Yin Galema menjejak di wilayah Kerajaan Balok ketika masih kanak. Ia datang bersama armada pelayaran milik Kerajaan Tiongkok yang mencari kayu gaharu. Panglima Gu Shu adalah pemimpin pelayaran itu.

Pasal apa yang membuat Yin kecil harus ikut dalam sebuah pelayaran menuju tempat yang masih samar-samar, yang hanya dipandu dua peta yang berumur sekitar 4 abad—itu? Rupanya, Yin adalah anak kandung dari Panglima Gu Shu, hasil perselingkuhannya dengan salah satu selir Kaisar Manchu, penguasa Tiongkok saat itu (hal. 118-119). Setelah aib itu terbongkar, kaisar menghukum mati ibu kandung Yin. Panglima Gu Shu, karena telah banyak berjasa untuk kaisar, tak tewas lewat tebasan pedang pancungan.

Pelayaran mencari kayu gaharu adalah “hukuman” dari kaisar untuk Gu Shu. Kaisar meyakini bahwa pelayaran itu tak akan pernah kembali ke Tiongkok. Gu Shu–yang tak tega melihat masa depan Yin tanpa ibu kandungnya–akhirnya menculik putri kaisar itu untuk mengarungi samudera bersamanya. Keyakinan kaisar terbukti salah, sebab pelayaran itu mampu tiba di hulu sungai tempat bermukim masyarakat Balok.

Raja Balok, yang bergelar Cakraningrat I dan bernama asli Ki Gede Yakob serta biasa dipanggil Ramonda oleh anak-anaknya, menyambut kedatangan armada itu dengan suka cita. Bahkan, penyambutan yang semarak: panji-panji non-pasukan perang berkibar, warga yang terdiri dari orang dewasa dan anak-anak berjejer di pinggir pantai dan puji-pujian berkumandang tak henti–membuat tumpas seluruh prasangka buruk tentang negeri Balok yang sebelumnya mendera pikiran Yin (hal.20-26).

Alih-alih kembali ke Tiongkok setelah mendapatkan kayu gaharu, rombongan pelayaran Panglima Gu Shu malah menetap di Kerajaan Balok. Bahkan, Gu Shu “mengabdi” pada Raja Balok dengan berniaga ke Tumasik dan Jawa. Gu Shu pula yang kerap mengantarkan upeti dari Kerajaan Balok kepada Kerajaan Mataram.

Sebelum Kerajaan Balok berdiri, penguasa di Pulau Belitong adalah keturunan raja-raja Badau. Ki Ronggo Udo, yang beragama Islam dan berasal dari Gresik, adalah raja terakhir Badau yang memindahkan pusat kekuasaan sekaligus mendirikan kerajaan baru di Balok. Pada tahun 1661, Ki Ronggo Udo menyerahkan tampuk kekuasaan Balok kepada menantunya, Ki Gede Yakob, dengan restu dari Susuhunan Cakrakusuma Sultan Agung di Mataram (hal.36). Sejak itulah, Kerajaan Mataram menjadi pengampu Kerajaan Balok.

Yin menghabiskan tahun demi tahun di istana Balok karena aktivitas perniagaan Gu Shu. Sebagai orang asing, Yin justru merasa nyaman hidup di antara keluarga Kerajaan Balok. Ia memelajari dan menyelami tata aturan pada keluarga raja, berkarib dengan anak-anak Ramonda dan sesekali berkeliling ke luar istana untuk meresapi budaya masyarakat Balok. Ian Sancin menjadikan usaha Yin ketika menyelami budaya Balok sebagai jalan memperkenalkan budaya Belitong kepada pembaca.

Melalui novel ini, maka terbacalah bahwa budaya Melayu terbentuk dari peleburan pelbagai macam kebudayaan. Salah satu yang menjadi tulang punggung akulturasi itu adalah perniagaan lewat jalur laut. Selain mendagangkan pelbagai jenis kayu, Kerajaan Balok juga kondang sebagai produsen penganan dodol yang lezat. Masyarakat Balok pun menggunakan kain katun yang didatangkan dari India.

Pada ranah kepercayaan, masyarakat Balok menerima pengaruh dari Islam. Hal ini nampak pada cerita dua taman di istana Balok (hal.54). Taman sebelah barat ditanami bebungaan yang berwarna putih sebab, “jika berada di negeri ini, arah barat merupakan kiblat patokan shalat.” Adapun taman sebelah timur dihiasi oleh bunga-bunga warna merah sebagai simbol dari permulaan–arah matahari terbit yang warnanya masih kemerahan.

Kehidupan nyaman, aman dan sejahtera yang Yin rasakan di Balok membuat ia tak lagi bermimpi untuk kembali ke puaknya. Tiongkok, bagi Yin, hanya mengisahkan perebutan kekuasaan antardinasti yang mengakibatkan kampung-kampung dibakar, perempuan diculik dan kekuasaan raja sangatlah mutlak.

Yin sangat terpukau dengan prinsip hidup masyarakat Melayu di Balok dalam hal kekuasaan yang tergambarkan lewat pasase “raje bijak menenteramkan, raje lalim menenggelamkan.” Prinsip hidup itu tidak hanya terucap di mulut, namun juga mengakar di sanubari masyarakat Balok. Hingga mereka memahami aturan sebagai proses menghormati perilaku diri, bukan karena rasa takut kepada raja (hal.105).

Ki Gede Yakob adalah raja yang lunak namun memiliki citra diri nan kuat di mata rakyatnya. Ia memimpin Kerajaan Balok dengan hati, bukan otot. Ki Gede Yakob juga senantiasa mendiskusikan kebijakan kerajaan dengan Ki Ronggo Udo, hingga Kerajaan Balok terlihat memiliki dua imam yang saling membesarkan masyarakat. Ki Ronggo Udo pula yang menjadi pembimbing Yin dalam proses akulturasi dengan budaya masyarakat Balok.

Novel pertama Ian Sancin ini juga mendedahkan budaya mistis dalam masyarakat Balok. Ki Gede Yakob, dalam rangka mempertahankan kekuasaannya, menikah dengan makhluk halus yang awam disebut orang bunian. Kisah mistis ini, menurut saya, setara dengan cerita tentang Nyi Roro Kidul dalam kultur Jawa. Pernikahan mistis Ki Gede Yakob dengan Nuzulia, si orang bunian, melahirkan seorang lelaki–yang hanya bisa dilihat oleh Yin–bernama Kanda Badau.

Ian Sancin mencandrakan adat pernikahan yang berlaku di dalam masyarakat Balok lewat kisah asmara tokoh-tokoh dalam novel ini. Adat cerai mati, misalnya, sangat menarik sebab ritual melepas kepergian seseorang dari dunia fana itu sama dengan prosesi ijab kabul pernikahan. Ritual tersebut–sebagaimana tampak ketika Ki Gede Yakob mengalami sakaratul maut (hal.552-554)–merupakan cara seseorang mengikhlaskan kematian pasangan hidupnya.

Yin Galema, putri dari Tiongkok itu, merupakan sosok nan tangguh. Hal ini terlihat ketika ia harus berlayar ke Tumasik untuk mencari kabar tentang Gu Shu yang telah mati di tangan perompak. Ian Sancin juga memperlihatkan kejayaan maritim bangsa kita. Kerajaan Balok memiliki armada laut yang kuat dan kerap berhasil menenggelamkan kapal VOC.

Novel ini ialah sejumput usaha untuk melindungi khazanah budaya milik bangsa Indonesia yang kian hari makin tergerus “traktor globalisasi”. Ian Sancin setidaknya menunjukkan bahwa sastra mampu berfungsi menjadi penyambung lidah antargenerasi dan sarana untuk merekatkan interaksi antar kelompok di masyarakat kini. Novel Yin Galema memberi bukti bahwa masyarakat Indonesia lahir dari dan tumbuh dalam kebhinekaan.

Komentar

 

 

 

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>