Tema Besar dalam Simpul Terujung

simpulJudul Buku: Simpul Terujung
Sumber: Batam Pos, 15 November 2009
Penulis: Citra Pandangian
Penerbit: Kanisius Yogyakarta
Peresensi: A Kohar Ibrahim

Benar. Aku selalu gembira bahkan bangga menerima hasil terbitan baru, terutama berupa karya sastra baik prosa maupun puisi. Terutama sekali karya penulis-jurnalis dan perempuan pula. Semata-mata lantaran medan juang maupun kedekatan dengan kaum “kuli” yang aku kenal dalam perjalanan hidupku.
Begitulah kegembiraanku menerima novel berjudul Simpul Terujung karya Citra Pandiangan – wartawati Harian Batam News – terbitan Milaz Grafika, Tanjungpinang 2009. Dedicated to all of ODHA (Orang Dengan HIV/AID).

Benar. Sungguh benar bahwasanya kisah yang diungkap novel dengan judul Simpul Terujung itu sejak awal mula sudah memikat hatiku. Beberapa waktu yang lalu. Ketika Citra mengutarakan garis bersar jalan cerita atau alur dari tema yang hendak diungkapkannya. Pertama, suatu tema yang besar. Lantaran memang merupakan tantangan sekaligus salah satu ancaman besar bagi keberadaan umat manusia. Ancaman salah satu macam penyakit tersebut HIV/AID yang telah menggelobal. Yang tersebar di lima benua. Selain yang paling gawat di benua Afrika, juga di Asia, termasuk Indonesia. Problematika yang mengancam kehidupan manusia dan kemanusiaan ini memang layak diungkap dan diperhatikan serta diupayakan solusinya. Kedua, penuangan isi atau komposisi alur kisahnya yang menggelitik hati dan pikiran. Kisah Segi Tiga. Kisah ketiga tokoh-tokoh utamanya yang berkonflik: Ellen – Audrey – Jack.

Benar. Ada benar yang sebenar-benarnya memang – akan hubungan yang tak pernah ada perceraian. Apa dan bagaimanapun terjadinya konflik, namun takkan ada kata cerai dengan saudari kandung sendiri. Apa pula terbuktikan adanya bauran hubungan kasih-sayang dan benci serta saling membutuhkan satu sama lain, meski terselang silang seling perihal konfliktual yang gawat. Dari sudut pandang hidup kehidupan hubungan kekeluargaan itulah pas-nya judul Simpul Terujung bagi alur novel pertama Citra Pandiangan ini.

Sebagai cicipan dari novel bernas lagi pula enak dibaca ini, saya turunkan nukilan yang tertera pada cover belakang, sebagai berikut:

”Hidup Ellen cukup lumayan, dia memiliki pekerjaan sebagai Public Relation, punya teman yag perhatian dan kekasih yang tampan, Jack. Bahkan seminggu lagi dia akan menikah dengan pujuaan hatinya. Namun rencana pernikahannya berantakan. Setelah Audrey, adiknya menyatakan dirinya hamil dengan Jack. Hidupnya jadi tak menentu.

Dia membenci adiknya yang sejak kecil selalu menyusahkan hidupnya, dia membenci Jack, karena mengkhianatinya. Padahal hubungan mereka telah terjalin empat tahun, bukan waktu yang sebentar tuk mengenal karakter pasangan.

Rasa malu terhadap rekan kerja dean juga koleganya membuatnya keluar dari pekerjaan. Walaupun bosnya, Raymond melarangnya untuk keluar dari perusahaan.

Dia lebih menyukai kesendiriannya. Selama tiga bulan, dia menyendiri, menutup diri dari luar. Namun, dia bangkit dari keterpurukannya. Mencoba memulai hidup baru. Setelah dia memutuskan hubungan sepihak dengan adikinya, begitu pernikahan (Audrey & Jack) berlangsung.

Mencoba kembali menata hidup, Ellen pindah dari Jakarta ke Batam. Dia memperoleh pekerjaan di salah satu hotel berbintang di sana. Di Batam, tak seoraqng pun yang mengetahui masa lalunya.

Disaat dia mulai kembali menatap hidupnya dan merasa nyaman di Batam, dia mendapat kabar buruk. Audrey, adiknya, terkena vrus AIDS dan kanker. Antara rasa tak percaya dan bingung. Berbagai perasaan berkecambuk, apakah dia harus melihat kondisi adiknya dan memaafkannya?”

Pembaca akan menemukan sendiri jawabannya, dengan mengikuti jalan kisah yang menggelitik sarat akan ragam rasa manusia yang manusiawi. Layaknya nada lagu humanisme yang lugu, mendayu dan mengharukan.

Novel yang berkisah dengan nuansa melodrama bahkan romantika gaya Citra ini tidak memberikan kesan sebagai novel cengeng, melainkan sebaliknyalah. Bernas. Berbobot. Layak simak oleh kalangan pembaca yang luas – tua muda – yang perduli akan salah satu bencana yang menimpa ummat manusia yang tersebut penyakit berupa virus AIDS. Yang peduli pada pendidikan bagi sesama manusia, terutama putera-puterinya, betapa dampak hubungan seks bebas dan ragam prilaku kelainannya sekalian kaitannya dengan narkoba yang menyesatkan.

Novel Simpul Terujung ini menarik hati dan pikiran, lantaran terasa penulisnya memang juga jurnalis yang sebagai ”kuli” (tinta) mengemban idealisme pencerahan. Jurnalis yang bukan menulis secara asal-asalan, melainkan dengan pengenalan materi, data dan fakta yang dikumpulkan. Lantas berkat bakatnya dalam mengkomposisi kata-kata yang pas dan juga daya imajinasi yang kuat, terwujudlah suatu karya prosa berupa novel yang layak sekaligus enak simak.

Bahkan, via karya sastra alias komposisi kata-kata berupa novel ini Citra bukan saja menunjukkan ke-sastrawati-annya, tapi sekaligus juga sebagai salah satu ”dokter” yang ujar-katanya layak perhatian masyarakat. Teristimewa sekali bagi kaum penderita serangan virus AIDS atau bagi Orang Dengan HIV/AIDS.

Dengan baris-baris kata di atas, mengingat makna pentingnya kata-kata bagi sastrawan-sastrawati, bagi wartawan-wartawati, berkaitan dengan penyakit dan kedokteran, saya jadi teringat pada seorang dokter Rusia bernama Anton Chekov yang akhirnya memilih karir sebagai sastrawan kebanding kedokteran.

Akhirul kata, saya acungkan jempol untuk Citra Pandiangan, sebagai novelis baru yang mengingatkan saya pada para penulis-jurnalis wanita lainnya yang saya kenal dan hormati, seperti LA.. Juga pada para novelis macam Francoise Sagan, pada Toni Morrison, pada Taslima Naser, pada NH Dini dan lainnya yang peduli pada suka-duka masyarakat banyak.

Terima kasih telah memperkaya kesusastraan Indonesia dan dunia. Salam kreatif. ***

Komentar

 

 

 

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>