Ke Dokter Gigi, Siapa Takut!

Sumber: Republika Minggu, 08 Februari 2009

Judul:      Kesehatan Gigi A to Z, Panduan Lengkap Kesehatan Gigi Keluarga
Penulis:   Dr drg Melanie Sadono Djamil MBiomed
Penerbit: IMP Publishing dan Bagian Biokimia dan Biologi Oral Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Trisakti

Dibutuhkan kesadaran penuh untuk memperhatikan kesehatan gigi. Apa pengaruhnya terhadap organ tubuh lainnya?
Selama bisa diatasi sendiri, kebanyakan orang enggan pergi ke dokter gigi. Rasa nyeri gigi berlubang, ngilu, gusi bengkak, diatasi sendiri dengan berkumur air garam, air rebusan daun sirih, atau antiseptik. Dokter gigi dijadikan alternatif terakhir setelah tindakan tradisional tak mampu menyembuhkan. Ada juga yang membiarkan sampai sakit gigi parah. Akibatnya, dari sakit gigi menyebar ke tempat lain, yaitu organ dalam tubuh. Berisiko kan?

Ada banyak alasan orang terutama anak-anak malas pergi ke dokter gigi. Alasan pertama takut, trauma. Terbayang tusukan jarum suntik, alat pengetuk gigi, hingga ngilunya bor ketika menyentuh ke bagian gigi. Sentuhan itu sangat terasa, karena gigi dan gusi merupakan bagian tubuh yang sensitif terhadap sentuhan. Contoh kecil saja, setelah makan yang asam-asam gigi terasa ngilu.

Pengalaman tersebut sangat dipahami oleh Dr drg Melanie Sadono Djamil Mbiomed yang lebih dari 20 tahun memberi pelayanan medis di bidang kedokteran gigi. Belum semua orang berani menghadapi kursi gigi (dental unit). Ketakutan dan ketidaktahuan menjadi satu, sehingga menurunkan kesadaran terhadap pentingnya memperhatikan kesehatan gigi. Padahal, menurut Melanie, tak ada yang perlu ditakuti dari dokter gigi, dan jangan menunggu sampai penyakit gigi semakin parah.

Buku hard cover yangd itulis Melanie ini mengulas dengan jelas, mulai anatomi gigi, problem gigi dan gusi, tindakan, kebersihan mulut, serta fakta dan tips-tipsnya. Kita pun bisa mengenal kehadiran gigi susu yang baru tumbuh di bayi hingga gigi bungsu yang terakhir tumbuh pada orang dewasa.

Buku ini pun sangat tepat sebagai panduan kesehatan gigi anak-anak, ABG, hingga dewasa. Untuk anak-anak diulas dengan jelas, kapan pertama kali anak harus menyikat gigi, bagaimana menyikat gigi, gangguan saat tumbuh gigi, kebiasaanngedot, mengempeng jari, dan lainnya.

Ada juga pilihan snack yang sehat untuk gigi. Melanie menyarankan untuk menghindari makanan lunak, lengket, manis, yang mudah menempel di permukaan gigi dan sela-selanya. Permen dan manisan buah bisa menghasilkan asam yang lebih banyak, sehingga mempertinggi risiko karies gigi. Yang terpenting, rajin menyikat gigi setelah makan. Melanie memberikan pula langkah jitu agar si kecil mau melangkahkan kaki ke dokter gigi. ”Mudah kok. Caranya, biasakan membawa si buah hati mengunjungi dokter gigi sejak dini.”

Pengaruh kesehatan gigi
Perlu juga disimak kalau gigi berlubang dapat memengaruhi kecerdasan anak. Benarkah? Jawabannya, ya! Walaupun dampak tersebut tidak secara langsung. Orang tua harus mengetahui alasan ilmiah, serta faktor apa saja yang menyebabkan anak-anak sering mengalami karies (gigi berlubang) agar tidak mengganggu kecerdasan anak.Selain gigi berlubang, perlu juga diketahui penyebab gigi retak yang dialami anak-anak. Penyebab utama gigi retak, karena kebiasaan buruk anak yang suka menggigit benda-benda keras. Di orang dewasa, gigi retak bisa terjadi akibat gigi terbentur saat terjadi kecelakaan.

Setiap orang mendambakan memiliki gigi putih, bersih. Kenyataannya sering ditemukan pada gigi anak-anak, bahkan orang dewasa, giginya berwarna kuning atau cokelat. Ini dinamakan diskolorasi, yaitu kondisi gigi mengalami perubahan warna yang tak sesuai dengan warna normal. Proses perubahan warna gigi bisa terjadi dari dalam (ntrinsic stain) dan dari luar (extrinsic stain). Hal ini terjadi karena trauma pada gigi, sehingga terjadi kematian vitalitas gigi.i

Intrinsic stain bisa terjadi selama proses pembentukan gigi. Misalkan saat kehamilan enam minggu, ibu mengonsumsi obat-obatan tertentu, seperti tetrasiklin dan fluor yang berlebihan. Gangguan ini harus ditangani tenaga profesional dengan teknik khusus.Sedangkan faktor luar yang andil terhadap perubahan warna gigi, terkait dengan makanan dan minuman yang dikonsumsi. Rokok, cerutu, kopi, teh, berada di antara sederet faktor yang mempengaruhi pewarnaan gigi. Bila dibersihkan dengan benar (gerakan mekanis), faktor ekstrinsik ini bisa dikurangi.

Untuk orang dewasa, di buku ini dijelaskan kehadiran gigi bungsu yang malah mengganggu. Mungkin Anda pernah mengalaminya. Posisi gigi bungsu itu ada yang terbenam pada posisi horisontal, bisa juga miring, atau terbenam pada posisi vertikal. Penyebabnya, karena ruang yang tersedia tidak cukup untuk menampung lebarnya gigi baru.

Anda pun perlu mengetahui keterkaitan gangguan gigi dengan kesehatan jantung. Ada hubungannya ya? Memang belum ada bukti akurat menunjukkan keterkaitan langsung antara gigi berlubang dan kesehatan jantung. Namun, pada penyakit sistemik dan penyakit periodontal, hal itu sudah diteliti secara luas. Kesimpulannya, ada hubungan langsung penyakit tersebut dengan gangguan kesehatan jantung. Hubungannya seperti apa terpapar di halaman 37 dan 38 buku ini.

Buku ini sangat tepat sebagai tambahan koleksi buku di rumah Anda. Karena isinya lengkap dengan gambar, bahasa yang ringan, informatif, dan mudah dimengerti. Panduan kepada anak-anak, dan keluarga agar menjaga kesehatan gigi secara baik dan benar. Diharapkan dengan buku panduan kesehatan gigi, tak ada lagi yang takut pergi ke dokter gigi. Kalau Anda sudah mengetahui kiat-kiatnya, Anda bisa berkata, ”Ternyata sakit gigi (tidak lagi) lebih sakit, dari pada sakit hati.”  vie

1 comment to Ke Dokter Gigi, Siapa Takut!

Komentar

 

 

 

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>