Perempuan

perempuanSumber: Republika, Minggu 13 Desember 2009
Peresensi: Susie Evidia Y
Judul: Perempuan
Penulis: M Quraish Shihab
Penerbit: Lentera Hati, 2009

Tanpa perempuan, bayi tak akan lahir, dan yang lahir pun tidak merasakan kasih sayang. Tanpa perempuan, masa muda lelaki menjadi gersang, masa matangnya menjadi hampa, dan masa tuanya menjadi penyesalan.

Memang, Allah menciptakan perempuan –sebagai istri, ibu, atau anak– untuk dicintai lelaki. (Demikian pula sebaliknya). Saking istimewanya, dalam Quran tersedia surat khusus membahas perempuan; QS Annisa.

Semua lelaki, sekalipun para nabi, harus mengakui bahwa keberadaan perempuan sangat dibutuhkan. Salah satunya untuk menyalurkan cintanya.

Sedemikian penting keberadaan perempuan, sesama lelaki bersedia bertarung memperebutkannya. Bukankah, pembunuhan yang terjadi pertama kali di dunia ini karena perebutan perempuan?

Banyak yang menganggap perempuan makhluk misterius. Di satu sisi, daya tariknya luar biasa, menjadikan dunia ini indah penuh warna. Namun di sisi lain, kehadiran kaum hawa ini malah dilecehkan. Banyak yang menganggap perempuan tak layak disejajarkan dengan lelaki, perempuan sebagai makhluk penggoda, penghancur, bahkan perusak dunia.

Bias-bias terhadap sosok perempuan telah berlangsung lama. Tak jarang, dalih agama dijadikan bemper untuk mengurangi hak-hak perempuan.

Sebaliknya, mereka yang memberi hak-hak malah melebihi kodrat perempuan. Tak jarang pula kodrat tersebut mengalami bias ketika berhadapan dengan teks keagamaan, menggunakan logika baru yang keliru, tidak sejalan dengan teks, jiwa, dan tuntunan agama.

Bias terjadi pula akibat semangat menggebu-gebu dari kelompok yang memperjuangkan demokrasi. Mereka menuntut persamaan hak tanpa memperhatikan perincian yang menyertai objek dan subjek yang dihadapinya.

Kelompok ini mengaitkan demokrasi dengan mengabaikan tuntunan agama. Karena pengambilan keputusan yang berkaitan dengan tuntunan agama, dinilai tidak dapat didasarkan atas pandangan mayoritas, karena agama adalah tuntunan Ilahi.

Lelaki dan perempuan adalah manusia yang sama, karena keduanya dilahirkan dari sumber yang sama, ayah dan ibu. Keduanya pun sama-sama berhak memperoleh penghormatan sebagai manusia.

Adanya perbedaan tidak mengurangi kedudukan satu pihak dan melebihkan pihak yang lain. Persamaan di sini diartikan kesetaraan. Bila kesetaraan telah terpenuhi, berarti keadilan telah tegak.

Di kalangan pemikir kontemporer sepakat, perlunya mendudukkan perempuan pada kedudukan yang sebenarnya. Memberikan perempuan peran –tak hanya dalam kehidupan rumah tangga– melainkan juga kehidupan bermasyarakat. Semua pihak mengakui perlunya keadilan, kebebasan, kemajuan, dan pemberdayaan perempuan.

Quran menegaskan, ”Sesungguhnya Aku (Allah) tidak menyia-nyiakan amalan orang-orang yang beramal di antara kamu, baik seorang laki-laki maupun perempuan.” (QS Ali Imran:195). Jelaslah dalam Islam tidak ada perbedaan bagi keduanya. Di mata Allah, lelaki-perempuan sama-sama makhluk ciptaan-Nya, amalan dan ibadah yang membedakan keduanya.

Demikian tegasnya Islam terhadap kesetaraan lelaki dan perempuan, namun masih ada ulama dan umat yang menafsirkan ungkapan yang menyudutkan perempuan. Di antaranya, ‘keberhasilan iblis menggoda manusia tercapai melalui perempuan’. Bahkan masih banyak yang menduga, perempuanlah yang menyebabkan manusia diusir dari surga. Tuduhan ini menjadi pembenar bahwa perempuan hanyalah alat setan untuk menjerat lelaki dan menjerumuskan mereka.

Sebaiknya tuduhan tersebut diluruskan kembali. Dalam Quran, secara tegas Allah menyatakan rencana-Nya menciptakan manusia menjadi khalifah di muka Bumi. Pelanggaran makan buah terlarang bukan hanya dilakukan apalagi atas dorongan perempuan, melainkan dilakukan bersama Adam dan Hawa.

Quran (Surat Thaha: 120) menyebutkan Adam sendiri yang dibisiki pikiran jahat setan sehingga memakan buah terlarang. Kedudukan Adam adalah pemimpin rumah tangga yang harus bertanggung jawab atas keluarga (istri). Jika demikian, mengapa Hawa yang disalahkan?

Memang sebagian pandangan negatif terhadap perempuan bersumber dari budaya non-Islam. Dalam Perjanjian Lama, kesalahan memakan buah terlarang juga dinisbahkan kepada perempuan, yaitu akibat rayuan setan sehingga dari sinilah perempuan dikutuk (Perjanjian Lama Kejadian III). Di Perjanjian Lama (Kejadian II:21-22) disebutkan perempuan diciptakan dari tulang rusuk Adam.

Bagaimana dengan riwayat Nabi Yusuf yang digoda perempuan sehingga muncul ayat QS Yusuf: 28, ”Sesungguhnya tipu daya kalian –wahai para perempuan– adalah besar.” Ayat ini seringkali dijadikan dalih melecehkan perempuan. Ternyata kesimpulan itu salah besar. Konteks sebenarnya ayat tersebut dipaparkan Quraish Shihab di buku Perempuan di halaman 49.

Perempuan merupakan buku the best seller di Indonesia. Buku setebal 461 halaman lengkap memuat hal-hal berkaitan tentang perempuan. Dari cinta sampai seks. Dari nikah mut’ah, nikah sunah, hingga kawin hamil. Dari perempuan dan politik, perempuan dan olahraga, seni suara, dan aneka aktivitasnya. Bias-bias lama hingga bias baru diuraikan pula dengan jelas dan terang.

Wajar saja buku ini mendapat label terlaris. Pertama kali dicetak tahun 2005, tahun ini memasuki cetakan kelima. Buku ini sangat tepat dijadikan pegangan atau buku saku bagi perempuan. Para lelaki pun tak ada salahnya menyimak buku ini. Karena begitu banyak pencerahan, pengetahuan, maupun distorsi berkenaan perempuan terpatahkan setelah membaca buku.

1 comment to Perempuan

  • opie

    ingatlah wanita adalah tiang agama dan negara.. jika baik dalam keduanya…maka baik juga kualitas agama dan negara tersebut….

Komentar

 

 

 

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>