Kisah Perempuan di Hindia Belanda

citraSumber: Kompas, 9 Januari 2010
Peresensi: Ageng Wuri R. A.
Judul Buku : Citra Kaum Perempuan di Hindia Belanda
Penulis : Tineke Hellwig
Penerbit : Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 2007
Cetakan : Edisi Pertama
Tebal : xii + 122 halaman

Kaum perempuan pada masa lalu digambarkan hanya sebagai pemuas kebutuhan seksual pria saja. Mereka pada masa lalu dipandang sebelah mata oleh kaum pria. Namun, dengan tergerusnya zaman kaum perempuan dapat menyetarakan dirinya dengan kaum pria dan ikut berperan diberbagai bidang. Seperti, R. A. Kartini (1879-1904), seorang perempuan pribumi istimewa yang hidup di pulau Jawa pada masa kolonial Hindia Belanda mampu membela hak-hak perempuan untuk pendidikan.

R. A. Kartini hanyalah salah satu dari sekian banyak perempuan yang menjadi korban dari sistem kolonial Hindia Belanda.

Penggambaran kaum perempuan dalam teks-teks kesusastraan yang berkenaan dengan masyarakat kolonial Hindia Belanda pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 ditulis oleh Tineke Hellwig dalam buku berjudul Citra Kaum Perempuan di Hindia Belanda. Secara terbuka, penulis (Tineke Hellwig) dalam buku tersebut memaparkan dan menguraikan kaum perempuan dalam teks-teks kesusastraan dalam bahasa Melayu dan Belanda. Pengarang teks-teks kesusastraan dalam bahasa Belanda, yaitu Louis Couperus (1863-1923), P. A. Daum (1850-1898), Annie Foore (1847-1890), Melati Van Java (1853-1927) dan Therese Hoven (1860-1941). Sedangkan, pengarang yang menulis dalam bahasa Melayu sangat terbatas, yaitu Gou Peng Liang (1869-1928), Phoa Tjoen Huat (1883-1928), Thio Tjin Boen (1885-1940), Njoo Cheong Seng (1902-1962), Herman Kommer (1873-19XX), dan G. Francis (1860-1915).

Sekitar tahun 1900-an perubahan-perubahan besar terjadi dalam masyarakat kolonial di Hindia Belanda. Perubahan-perubahan tersebut terjadi dalam konteks sosial dan ekonomi yang berlangsung pada abad ke-19. Pada masa itu masyarakat Hindia terdiri dari orang-orang pribumi yang terbagi dalam berbagai kelompok masyarakat etnis, golongan Indo, golongan Eropa serta yang dinamakan golongan Timur Asing (Cina, India, dan Arab).

Jumlah orang Eropa di Hindia meningkat. Secara bersamaan, pendidikan Barat untuk rakyat Indonesia telah menumbuhkan kesadaran politik mereka. Orang-orang Indo dan Cina didesak untuk menempati posisi-posisi yang lebih sempit. Dalam masyarakat majemuk ini terjadi tegangan antara warga pelbagai kelompok yang berbeda.

Banyak dampak bangsa Eropa dirasakan oleh masyarakat yang hidup di Kepulauan Nusantara ini. Salah satunya adalah sistem tanam paksa (cultuurstelsel) pada tahun 1830 dicetuskan oleh Gubernur Van Den Bosch. Sistem tanam paksa membuat seluruh penduduk sangat menderita, karena tanah digunakan untuk menghasilkan tanaman komersil. Selain masalah ekonomi, sosial pun menjadi sebuah polemik di tengah-tengah penderitaan penduduk, khususnya kaum perempuan. Dengan munculnya sistem feodal, berkenaan dengan hubungan antara orang-orang berlainan jenis. Perempuan dianggap lebih rendah dari pria, sekalipun kaum perempuan memegang peranan penting.

Pada masa VOC muncul pergundikan, yang pada waktu itu terkenal dengan sebutan nyai. Budak perempuan biasanya berasal dari lapisan masyarakat yang paling miskin. Pejabat-pejabat di kalangan VOC lebih tinggi umumnya memiliki hubungan lebih erat dengan perempuan-perempuan setempat, baik sebagai istri maupun gundik. Seorang nyai dapat dikatakan tidak mempunyai hak apa pun, antara lain tidak punya hak atas anaknya maupun tidak atas posisinya sendiri. Yang menarik, walau seringkali perkawinan campuran tidak dapat diterima oleh masyarakat, namun dalam kehidupan sehari-hari seorang istri tidak resmi, secara lahiriah diperlakukan sama terhormatnya dengan istri sah.

Pencitraan Kaum Perempuan di Hindia Belanda dalam Karya Sastra

Tineke melihat di dalam novel-novel Belanda umumnya menguraikan inti cerita berkisar sekitar tokoh-tokoh Eropa, yaitu orang Belanda dan Indo. Seringkali orang pribumi dan orang Tionghoa tidak memegang peranan penting, orang pribumi menjadi pembantu, kuli, atau warga terjajah, yang tidak bertindak ataupun berbicara. Sifat problematik masyarakat Hindia Belanda dengan pengucilan rasialnya menggema di hampir kebanyakan kisah.

Dua tema lain yang berulang muncul dalam novel-novel Belanda, yaitu pertama sifa misterius yang meliputi dunia khatulistiwa di Asia (dunia gaib) dan kedua, moralitas seksual dengan standar gandanya yang mencangkup masalah gundik dan voorkinderen (anak hasil hubungan luar perkawinan antara lelaki Eropa dan nyai-nya). Tema tersebut terdapat dalam karya Couperus dengan judul De Stille Kracht, karya De Familie van de Resident (Keluarga Sang Residen) oleh Melati Van Java, kisah Indische Toestanden (1897, Keadaan di Hindia, dari negeri Pohon Kelapa) karya Therese Hoven, kisah Willie’s Mama (1895) dalam koleksi Indische Huwelijken (Perkawinan di Hindia) oleh Annie Foore, dan novel Nummer Elf (1893, Nomor Sebelas) karya P. A. Daum yang sangat dipuji-puji orang.

Dalam kisah-kisah karya sastra yang telah disebutkan di atas, betapa besar trauma bagi perempuan yang menerima kehidupan masa lampau suaminya dengan seorang nyai, terutama jika ia mempunyai beberapa orang voorkinderen. Jelas bahwa konfrontasi utama diutarakan dalam kisah-kisah Belanda terjadi di antara bangsa Eropa kulit putih dengan orang-orang Indo dan anak-anak voorkinderen yang menimbulkan masalah adalah Indo.

Berbeda dengan novel-novel dalam bahasa Melayu. Tineke melihat pencitraan kaum perempuan terdapat di beberapa karya sastra bahasa Melayu, yaitu Tjerita Njai Dasima (1813) karya G. Francis, Tjerita Nji Paina (1900) karya H. Kommer, kisah Sarinten sebagai nyai Jonkheer Adriaan Malheure dalam Tjerita Controleur Malheure (1912) oleh Th. H. Phoa, Njai Warsih (tanpa tahun) karya Thio Tjin Boen, Tjerita Nona Diana (1920) karya Gouw Peng Liang, dan cerita Nona Olanda sebagi Istri Tionghoa (1925) karya Njoo Cheong Seng.

Kisah-kisah bahasa Melayu ini menyajikan sosok perempuan dalam berbagai peranan dan posisi. Mereka menjadi nyai dan istri, sering dalam hubungan multirasial yang menjadi pusat alur cerita. Jelas bahwa hubungan kolonial dalam masyarakat hindia menyebabkan banyak perasaan tidak puas dan memerlukan sangat banyak usaha penyesuaian. Karena kekuasaan kolonial dapat diidentifikasikan dengan lelaki kulit putih, maka perempuan menduduki tempat lebih rendah.

Dengan membaca buku yang berjudul Citra Kaum Perempuan di Hindia Belanda, para pembaca diajak untuk meneropong peranan yang dimainkan perempuan di tengah kancah perubahan sosial pada kehidupan Kolonial Hindia Belanda. Dengan menelaah sejumlah karya sastra yang melukiskan kehidupan kolonial di Hindia, Tineke berhasil menguak pelbagai ketidakseimbangan yang terjadi pada era masa lalu, khususnya pada kaum perempuan.

*) Penulis Lepas, Mahasiswi Program Studi Jawa Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) Universitas Indonesia (UI)

Komentar

 

 

 

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>