Memaknai Sekolah
Sumber: Batam Pos, 10 Januari 2010
JuduL: Untuk Apa Sekolah
Perensi: Maswito, S.Pd
Penulis: Hardi S Hood dan Koestarini Hardi
Penerbit: Milaz Grafika, Tanjungpinang
Tebal: 165 Halaman
Lihatlah sudut-sudut hati kecilmu dengan pandangan mata yang tajam dan pengamatan yanh cermat. Jika engkau mendapatkan sesuatu yang terpuji, maka pujilah Allah dan teruslah berlalu. Akan tetapi, jika engkau melihat sesuatu yang menjengkelkan, maka ikutilah dengan evaluasi dan pemeriksaan yang baik terhadapnya. (Al Harsal Muhasibi).
Sengaja saya kutif untaian kalimat itu ketika membaca kumpulan tulisan pasangan suami istri Hardi Selamat Hood dan Koestarini Hardi yang berjudul “Untuk Apa Sekolah.” Ada 22 judul yang terdiri dari empat bab yang kesemuanya berkaitan dengan dunia pendidikan dengan segala probelematikanya yang terdapat dalam buku ini Hardi dan Koestarini secara jujur menuangkan pemikirannya tanpa tendeng alang-aling untuk kesempurnaan buku ini. Sehingga buku ini enak untuk dibaca dan layak bagi pengembangan dunia pendidikan karena isi buku ini penuh dengan pencerahan guna peningkatan mutu pendidikan. Inilah kelebihan buku ini yang ditulis apa adanya sesuai dengan realita yang dilihat dan dirasakan oleh penulis buku sendiri tanpa harus ditutupi.
Saya mengajak para pembaca sebelum memberikan penilaian terhadap buku ini, jangan lihat sampul kulit dan judulnya yang cukup kontroversial dan mengelitik dari buku ini. Tapi bacalah isinya secara utuh, lalu pahami dan renungkan makna yang hakikie yang terkandung dibalik isi buku ini. Anda akan menemukan apa sesungguhnya pemikiran pasangan suami istri ini terhadap perkembangan dunia pendidikan yang mereka cintai sepenuh hati, tanpa harus ditutupi. Apa yang dirasakan penulis buku juga akan menjadi perasaan kita. Kita menjadi terwakili didalamnya.
Saya sependapat dengan Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Jawa Barat Prof. Dr. Muhammad Ali, MA yang membuatkan kata pengantar dalam buku ini. Dari sisi judul, jika dimaknai dari dua sisi setidaknya ada dunia makna yang terkandung dalam buku ini yakni sisi positif dan negatif.
Kita tinggalkan sisi negatif dari judul buku ini jika kita mau melihat perubahan. Lihatlah makna positif yang terkadung dalam judul buku ini sebagaimana juga tergambar dalam isinya. Bagaimana caranya, kita sebagai masyarakat mampu membantu sekolah agar sekolah menjadi lebih bermakna untuk mempersiapkan hidup yang optimal sesuai dengan potensi yang dimiliki generasi penerus bangsa ini.
Sekolah akan lebih bermakna, bila seluruh elemen masyarakat terlibat untuk memikirkan perkembangannya. Paradigma lama bahwa perkembangan sekolah yang selama ini diserahkan bulat kepada guru harus dirubah. Jika selama ini masyarakat mengantar dan menjemput anak sampai di luar pagar sekarang harus masuk pagar ke sekolah. Masyarakat perlu mendalami perasaan guru, guru juga harus terbuka mendalami perasaan orang tua anak. Saling dukungan inilah yang diharapkan untuk menjadikan sekolah menjadi bermakna.
Dalam buku ini juga dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa pemerintah harus harus menumbuhkan perhatian yang kuat untuk mensejahterakan guru, meningkatkan ilmu guru serta memberikan pencerahan. Intinya, bagaimana pemerintah punya komitmen mngembalikan kodrat guru yang sebenar-benarnya. Masyarakatpun harus punya pandangan serupa susuai dengan kapasitasnya. Sebagai sebuah buku “Untuk Apa Sekolah” paling tidak cukup mewakili perasaan guru yang saat ini dikultuskan sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Juga, sekaligus meng-arifi tantangan yang bukan terperangkap dalam konsep mengadili atau menyanjung sebagai sebuah kultus kemanusian.
Karena buku ini bukanlah sebuah kita suci, tentu ketidaksempurnaannya menjadi catatan sendiri. Sebab yang sempurna itu hanyalah perubahan, dan perubahan yang diharapkan dalam buku ini adalah pencerahan. Selamat dan tahniah buat Bung Hardi dan Koestarinie Hardi. Bravo untuk anda berdua yang telah memberikan pencerahan buat kita semua.
*Peresensi Guru SMK Negeri 1 Kota Tanjungpinang.

Artikel Populer