Menelisik Sistem Keuangan Islam

Sumber Kompas, 20 Maret 2010
Judul Buku  : Islamic Finance; Keuangan Islam di Era Global
Peresensi  : Eny Maidah
Penulis : Ibrahim Warde
Penerbit : Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Tebal  : xv + 536 Halaman

Diakui atau tidak, saat ini, sistem keuangan islam menjadi “tatanan dunia baru” (New World Order) yang menebar pesona pelbagai negara di dunia. Setidaknya 70 negara telah mempraktekkan system keuangan islam. Asset bank-bank tersebut telah mengalami peningkatan lebih dari 40 kali lipat sejak tahun 1982 dengan capaian melebihi $ 200 Milyar. Pada tahun 1996 dan 1997 bank-bank islam mengalami pertumbuhan dengan tingkat rata-rata per tahun masing-masing mencapai 24 % dan 26 %.

Buku “Islamic Finance; Keuangan Islam di Era Global” karya Ibrahim Warde ini berusaha menelisik akar ekonomi islam secara komprehensif. Bagi penulis, kemunculan perbankan islam dimulai pada tahun 1970-an yang disebut dengan istilah Aggiornamento 1 (proses modernisasi atau pembaruan). Aggiornamento 1 ini dipelopori oleh raja Faisal dari Arab Saudi dibawah dukungan Organisasi Konferensi islam (Organisation of the Islamic Conference). Kebangkitan islam (Pan Islamisme) dan naiknya harga minyak dunia menjadi pemicunya.

Kebangkitan islam yang dipelopori Negara-negara Timur Tengah seperti Arab Saudi, Iran, Sudan, Mesir dan sebagainya ini menimbulkan adanya satu persepsi bahwa islam selayaknya dijadikan sebagai system keuangan untuk menjawab tantangan zaman. Diadakanlah sebuah konferensi Islam di Jeddah pada 1972 yang menghasilkan kesepakatan tentang perbaikan system moneter dan keuangan berlandaskan etika islam.

Berikutnya pada 1974 organisasi konferensi islam yang digelar di Lahore memutuskan kepada Negara-negara anggota untuk mendirikan Islamic Development Bank (IDB), yang menjadi landasan system perbankan islam. IDB ini didanai oleh Negara anggota dan memberikan pelayanan atau bantuan keuangan kepada Negara anggota berbasis uang jasa (Fee Based Financial Services) serta bantuan keuangan berbasis pembagian keuntungan dan kerugian (Profit and Loss Sharing). Anggota awal sebanyak 44 negara dengan pemegang sahamnya terbesar adalah Arab Saudi (25%), Libya (16%), Uni Emirat Arab (14%) dan Kuwait (13%).

Adalah Dubai Islamic Bank (Bank Dubai Islam) yang didirikan pada 1975 sebagai bank islam swasta modern yang pertama. Sebelum dasawarsa itu berakhir, banyak bank yang sama bermunculan di dunia muslim, seperti Kuwait Finance House (1977), Faisal Islamic Bank Of  Egypt (1977), Islamic Bank Of Sudan (1977), Jordan Islamic Bank for Finance and Investment (1978), Bahrain Islamic Bank (1978) dan Islamic International Bank For Investment and Development (1980) di Mesir. Selain itu, sejumlah bank Investasi Internasional mulai didirikan, seperti Islamic Investment Company di Nassau (1977), Islamic Investment Company of Gulf (1978) di Sharjah, Syariah Investment Services (1980) di Genewa dan Bahrain Islamic Investment Bank (1980) di Manama.

Atas inisiatif pangeran Muhammad, dibentuklah Asosiasi bank Islam Internasional (International Assosiation Of Islamic Bank) pada 1977 yang bertujuan untuk menyediakan koordinasi dan mekanisme pembinaan bank-bank baru. Disamping itu juga mempublikasikan buku panduan bagi perbankan islam berjudul Handbook Of Islamic Banking.

Buku Handbook Of Islamic Banking ini berisi tentang dasar dan manfaat ekonomi islam. Disebutkan bahwa salah satu manfaatnya adalah mempromosikan dan menstimulasi entrepreneurship melalui mekanisme Profit And Loss Sharing (PLS), seperti mudarabah dan musyarakah, mempromosikan keadilan social, persamaan dan menghapus kemiskinan melalui pendirian lembaga zakat serta memberikan pinjaman bebas bunga (al-qard al-hasan), khususnya kepada masyarakat kecil.

Tahap Aggiornamento yang kedua adalah pada akhir 1980-an sampai 1990-an. Pelbagai Negara-negara islam dan non islam mulai mendirikan institusi keuangan islam. Dalam tahap ini, setidaknya ada lima fenomena baru yang menunjukkan adanya trend gairah menyikapi system perbankan islam. Pertama, semakin banyaknya bank-bank konvensional yang membuka unit usaha berciri islam atau Islamic windows yang menawarkan kepada nasabahnya pilihan antara produk islami atau konvensional. Dalam hal ini, Arab Banking Corporation yang didirikan secara bersama-sama oleh Kuwait, Libya dan Uni Emirat Arab pada 1980 merupakan bank islam yang banyak menawarkan produk syari’ah.

Kedua, institusi keuangan dari luar dunia islam mulai mendirikan cabang-cabang usaha islam atau menawarkan produk-produk islam. Perusahaan besar seperti Citicorp, Merrill Lynch, Grindlays, Goldman Sachs dan ABN Amro berusaha keras menciptakan brand global dengan Negara-negara teluk. Ketiga, banyak diantara institusi keuangan islam membidik produk mereka yang semakin beragam kepada para nasabah non muslim. Institusi keuangan tersebut tidak hanya dapat diterima secara islam saja, tetapi juga berupaya menciptakan produk-produk yang secara intrinsic menarik hati para pengguna produk konvensional.

Keempat, sejumlah bank-bank islam telah dibangun di luar dunia islam dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan komunitas islam local. Sejak 1980-an bank-bank islam telah dibangun di Eropa, Amerika dan Australia. Ini menunjukkan dunia menerima bank islam. Pada 1997 Rusia yang populer menganut system komunis juga mendirikan bank islam bernama Badr Bank. Bahkan 51 % sahamnya dimiliki rakyat Rusia, meski modal pertamanya datang dari Iran, Arab Saudi, Qatar dan Sudan.

Kelima, banyaknya ijtihad dari ulama islam soal keuangan islam yang dilakukan dalam rangka kerjasama antara institusi islam dan konvensional. Pelbagai lembaga islam bekerjasama dengan luar islam soal penelitian keuangan islam. Salah satunya adalah penelitian Pusat Studi Timur Tengah(Center For Middle Eastern Studies) yang bekerjasama dengan Harvard Law School dan Harvard Business School dengan biaya National Commercial Bank, Islamic Development Bank dan Wellington Management. Pada Desember 1995, Harvard Islamic Finance Information Program (HIFIP) didirikan dengan biaya dari Islamic Investment Company of the Gulf (IICG) yang bertujuan untuk mempromosikan tentang keuangan islam bagi masyarakat internasional.

Buku ini memperkenalkan gambaran keuangan islam secara komp-rehensif disertai data empiris, historis dan analisa yang kritis serta membahas ekonomi moral, moral hazard islam dalam konteks ekonomi global. Sebuah buku yang menegaskan bahwa keuangan islam merupakan salah satu alternatif menuju “Tatanan Dunia Baru” yang mencerahkan dan mendamaikan.

*) Peresensi adalah Pustakawan. Peneliti Pada STEI Yogyakarta (STEIYo).

Komentar

 

 

 

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>