Pembawa Suluh Pencerahan

Sumber: Kompas, 6 Maret 2010
Judul buku: Muhammad: Rasul Zaman Kita
Peresensi: Siti Muyassarotul Hafidzoh
Penulis : Tariq Ramadhan
Penerbit: Serambi Jakarta
Tebal: 422 halaman

Lahirnya Nabi Muhammad SAW di Semenanjung Arabia telah menandai lahirnya kebudayaan dan peradaban baru yang civilized. Bangsa yang tadinya pagan-barbarian menjadi bangsa yang modern, bahkan terlalu modern untuk ukuran sosiologis-antropologis Timur Tengah waktu itu. Kedatangan Nabi menjadi obor peradaban yang menerangi seluruh penjuru kegelapan. Keadilan ditegakkan, keterbelakangan diempaskan, kebodohan dilenyapkan, perempuan dan hormati dan diberdayakan, dan kemiskinan segera dientaskan. Kedatangan Nabi inilah yang kemudian diistilahkan sebagai rahmatan lil’alamin (rahmat bagi alam semesta).

Semenanjung Arabia di masa kelahiran Muhammad adalah daerah yang masih diselimuti ratapan kehidupan yang penuh penistaan, kebiadaban, pembunuhan anak perempuan, dan krisis kemanusiaan lainnya. Ya, mereka adalah kaum arab pagan yang barbarian dan bangga karena berbuat berbagai tragedi kemanusiaan yang memilukan. Yang berkuasa atas yang lain adalah prestasi hidup yang terus dikejar dan disayembarakan.

Tariq Ramadhan hadir dalam sebuah penjelajahan atas diri Nabi Muhammad lewat bukunya yang bertajuk “Muhammad: Rasul Zaman Kita”. Buku ini mengungkap bagaimana seorang manusia yang paling mampu mewujudkan ajaran wahyu dalam seluruh perilakunya ini “berbicara” kepada kita, menuntun kita, dan mendidik kita saat ini.

Kita diajak menyelami jantung kehidupan Nabi dan mengabadi-kan ajaran-ajaran spiritualnya yang tak lapuk tertelan zaman. Sejak kelahiran hingga wafatnya, kehidupan Nabi dipenuhi dengan beragam peristiwa, situasi, dan pernyataan yang mengandung pelajaran spiritual yang paling dalam. Keteguhan iman, dialog dengan Tuhan, mengamati alam, keraguan diri, kedamaian batin, berbagai tanda dan cobaan, dan sebagainya, merupakan tema yang menuturkan sekaligus mengingatkan kita bahwa pada dasarnya tidak ada yang berubah. Biografi Rasul mengungkap beragam persoalan eksistensial mendasar dan abadi.

Kehidupan Rasul dalam buku ini merupakan cermin yang dengannya para pembaca yang sedang menghadapi tantangan zaman mampu menyelami hati dan pikiran mereka sendiri dan memahami berbagai persoalan hidup dan masalah sosial dan moral yang lebih luas.

Pada tiap bagian bab yang sengaja dibuat pendek, pembaca akan menyaksikan pergerakan yang harmonis antara kehidupan Nabi, Alquran, dan ajaran-ajaran yang bersesuaian dengan nilai-nilai spiritual dan situasi masa kini, yang bisa kita petik dari beragam peristiwa sejarah. Ramadan juga menuntun pembaca dalam bercermin pada kemanusiaan dan keteladanan Nabi mengenai persoalan-persoalan etika, sosial, ataupun pandangan hidup.

Tariq Ramadhan melihat bahwa terlepas dari tanda-tanda alam yang menyelimuti kelahiran Nabi Muhammad, beliau adalah pemimpin besar yang sukses merubah tatanan tiran-totalitarian menjadi masyarakat yang damai, sejuk, dan sejahtera. Dalam waktu 234 tahun, beliau mampu merubah infrastruktur dan suprastruktur bangsa Arab menjadi beradaban. Ya, reformasi yang bangun Nabi bersandarkan pada prinsip-prinsip keyakinan yang kukuh, sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan universal berdasarkan bimbingan kitrab suci. Tak pelak, kesuksesan Nabi mencengangkan para pemikir dunia. Michale H. Hert, misalnya, kemudian menempatkan Nabi sebagai tokoh nomor satu dunia.

Lings melihat bahwa Maulid Nabi Muhammad harus dijadikan refleksi serius umat Islam dalam menata kembali reformasi peradaban. Jejak-jejak Nabi Muhammad dalam menciptakan masyarakat yang adil dan beradab bisa dijadikan landasan pemikiran para pemimpin negara dalam merumuskan arah Indonesia di masa depan. Dan yang paling krusial, seluruh kerja kepemimpinan yang dijalankan Nabi, semunya, adalah untuk meneguhkan kekuatan masyarakat sipil (madany, civil society). Masyarakat madani (Said Aqil Siraj menyebutnya Mutamaddin) adalah konstruksi sosial masyarakat yang berbasis keyakinan (faith) yang kukuh, menjunjung tinggi persaudaraan (ukhuwwah), prestasi sosial, kesetaraan (equality), dan keanekaragaman (plurality).

Konstruksi masyarakat madani dapat dilihat di Madinah, dimana Nabi Muhammad hidup bersama masyarakat yang lintas suku, lintas agama, dan lintas sektoral. Semua duduk bersama untuk membangun masyarakat Madinah yang maju, sejahtera, dan beradab. Dalam catatan sejarah dunia, masyarakat madani di Madinah menghasilkan Piagam Madinah (Mitsaq al-Madinah); sebuah Undang-undang resmi negara yang disusun dan disepaki bersama dalam mengatur kehidupan publik berdasarkan nilai-nilai kemanusiaan universal waktu itu. Inilah piagam pertama dalam sejarah dunia dalam pembangunan masyarakat yang demokratis.

Jejak perjuangan Nabi dalam membangun Madinah dapat menjadi cermin (mir’atun) bangsa Indonesia dalam merumuskan kerja di masa depan. Para pemimpin yang mendapatkan amanat publik seharusnya bisa mencontoh prilaku Nabi Muhammad sebagai pemimpin. Beliau adalah sosok yang jujur (sidiq), terpercaya (amanah), menyampaikan hak-hak rakyat (tabligh), dan cerdas (fathonah). Inilah kriteria pemimpin yang menancap dalam diri Nabi.

Buku ini menjadikan kisah hidup Nabi sebagai inspirasi menata masa depan. Masa depan untuk memperjuangkan peradaban manusia yang membela kemanusiaan dan keadilan. Tidak berbelok kanan-kiri, tetapi selalu menancapkan diri untuk membela yang hakiki. Tidak terjebak dalam pragmatism diri yang egoistic, selalu terbuka untuk meningkatkan prestasi. Inilah jalan hidup Muhammad yang direkam Lings, sehingga menarik untuk mengimajinasikan masa depan umat manusia yang adil dan beradab.

*Pecinta buku.

Komentar

 

 

 

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>