Menelusuri Perubahan Identitas Kota

Sumber: Kompas, 15 Juli 2010
Judul Buku : Kota-Kota Di Jawa; Identitas, Gaya Hidup, dan Permasalahan Sosial
Peresensi  : Supriyadi
Penulis  : Prima Nurrahmi Mulyasari dkk
Editor   : Sri Margana & M. Nursam
Penerbit : Ombak, Yogyakarta
Cetakan  : Pertama, 2010
Tebal  : x + 541 halaman

Waktu demi waktu terus bergulir. Dengan bergulirnya waktu, perubahan demi perubahan pun terus terjadi dan tidak dapat dihindarkan. Adakalanya perubahan itu menuju kepada hal yang lebih baik sehingga menjadikan kemajuan. Namun adakalanya juga perubahan itu membawa kepada kemuduran. Begitu juga dengan kota-kota di Jawa yang dalam perkembangannya telah membawa perubahan. Perubahan tersebut telah membuat pergeseran pada identitasnya.

Buku yang berjudul “Kota-Kota Di Jawa; Identitas, Gaya Hidup, dan Permasalahan Sosial” merupakan kumpulan artikel-artikel yang dalam pembahasannya memaparkan kota-kota di pulau Jawa berikut identitas, gaya hidup, hingga permasalahan sosial perkotaan. Secara keseluruhan, perubahan demi perubahan telah banyak membuat kota-kota di Jawa tersebut menampakkan wajah yang berbeda dari zaman dahulu hingga sekarang.

Kota-kota di Jawa, pada perkembangan sejarahnya memiliki berbagai karakter dan sifatnya yang khas. Solo dan Yogyakarta yang dulunya adalah sebuah kerajaaan besar (Kerajaan Mataram Islam), Banyumas yang pernah menjadi kota terbelakang, Surabaya sebagai kota obyek urbanisasi suku Madura, dan lain sebagainya memiliki perkembangan sejarah yang beragam karena pelaku budaya yang membentuk sejarah pun beragam pula.

Tradisionalitas klasik yang menjadi identitas kota pada masa lampau, kini mengalami pergeseran yang mana hal itu menuju ke arah modernitas. Gaya hidup orang-orang kota pun telah terkontaminasi dengan gaya hidup para pendatang sehingga membawa permasalahan sosial yang baru pula. Ihwal dari penjajahan oleh Belanda dan Jepang yang kemudian merdeka hingga sekarang, kota-kota di Jawa telah menuju ke arah modernitas. Barangkali hal itu dipengaruhi faktor dari luar seperti pendatang baik dari luar negeri ataupun dalam negeri (migrasi). Urbanisasi dan perilaku migrasi lainya juga setidaknya membawa pengaruh yang besar selain dinamika politik dan ekonomi daerah perkotaan.

Identitas Kota

Setiap kota pasti memiliki identitas yang mana hal itu menjadi ciri khasnya. Begitu pula dengan kota-kota di Jawa yang lekat dengan identitasnya yang menyimbolkan bahwa identitas tersebut adalah kepribadian kota tersebut. Bukan hanya sekadar identitas, akan tetapi lebih pada nilai-nilai luhur dan arif yang terkandung dalam identitas kota tersebut.

Karakter dan ciri khas kota-kota di Jawa sebagian telah hilang atau luntur. Tidak hanya itu saja, bahkan identitas kota-kota di Jawa telah lenyap pada memori penduduknya sendiri. Kota Solo dan Banyumas (misalnya), menjadi potret hilang dan lunturnya identitas kota yang mana pada tempo dulu sangat lekat dengan identitasnya.

Lunturnya identitas kota Solo lebih disebabkan oleh sikap dan cara pandang penduduknya yang terlalu longgar terhadap modernitas dan pengembangan fisik kota. Sementara di Banyumas, kemunduran disebabkan karena letak geografis yang tidak menguntungkan sehingga sulit terjangkau transportasi. Pada awal abad ke-20, Banyumas tidak seperti kota-kota di Jawa lainnya yang mengalami kemajuan. Kota ini justru mengalami suatu periode kemunduran karena tidak mampu mempertahankan posisinya.

Sungguh kedua kota tersebut sangat berbeda dengan kota Yogyakarta. Jika di berbagai kota di Jawa, arus modernitas menjadi penyebab utama lunturnya identitas kota, Yogyakarta justru sebaliknya. Kota Yogyakarta justru sedang mengalami pengayaan identitas. Hal ini karena akulturasi dan assimilasi dari kebudayaan yang dibawa oleh komunitas Tionghoa yang menetap di kota Yogyakarta. Salah satu akulturasi dan assimilasi tersebut tercermin pada perayaan Imlek dari masyarakat Tionghoa-Muslim di Yogyakarta. Hal yang unik dari masyaratakat Tionghoa-Muslim tersebut, adalah perayaan Imlek yang tidak dirayakan di klenteng, akan tetapi justu di masjid. Nasi tumpeng yang menjadi ciri khas masyarakat Jawa (khususnya Yogyakarta), berdampingan dengan kue keranjang yang menjadi simbol masyarakat Tionghoa.

Gaya Hidup dan Permasalahan Sosial

Lagi-lagi modernitas telah mengubah semuanya. Masyarakat kota yang dulunya memegang tradisi klasik yang dimiliki, pada era kini berubah karena arus modernisasi yang sangat kuat. Akhirnya, gaya hidup pun menjadi berubah. Berbagai produk dan barang yang menjadi konsumen masyarakat kota telah menjadi simbol modernitas. Hal itu berakibat pada gaya hidup masyarakat kota yang mana mengkonsumsi berbagai produk dan benda atau barang yang memiliki simbol modern. Arus modernisasi yang kuat telah melanda kota-kota di Jawa sehingga mau tidak mau, masyarakat tersebut bergaya hidup ala modern.

Salah satu barometer gaya hidup yang modernis di tandai dengan pakaian. Gaya berpakaian menjadi ukuran untuk melihat karakteristik kehidupan di perkotaan. Berpakaian bukan sekedar memenuhi kebutuhan biologis untuk melindungi tubuh dari panas, dingin, dan gigitan serangga, akan tetapi juga terkait dengan adat-istiadat, pandangan hidup, peristiwa, kedudukan atau status, dan juga identitas (hlm. 8).

Meski demikian, modernisasi tidak selamanya membawa keburukan meskipun telah menghilangkan sebagian identitas perkotaan dan merubah gaya hidup masyarakat kota. Adakalanya modernitas itu membawa nilai positif yang bisa dimanfaatkan dengan baik.

Sementara itu, kehidupan perkoataan yang individual, mengedepankan kompetisi sering kali melahirkan permasalahan sosial seperti kriminalitas, prostitusi, aborsi, kemiskinan, urbanisasi, pengangguran, dan permasalahan sosial lain. Masalah-masalah sosial yang muncul di perkotaan ini menuntut pemerintah kota untuk berbuat sesuatu agar kehidupan perkotaan menjadi lebih aman dan nyaman (hlm. 9).

Dari berbagai kota di Jawa tersebut, dapat disimpulkan bahwa sejarah kota telah berjalan dari tradisionalitas yang menjadi identitasnya menuju modernitas yang menjadi identitas barunya. Sering kali, budaya Barat lah yang menjadi kiblat dari perilaku yang dianggap modern karena budaya Barat kini telah menghegemoni dunia, termasuk pula budaya tersebut menyelinap pada kota-kota di Jawa.
Dengan membaca buku yang berjudul “Kota-Kota Di Jawa; Identitas, Gaya Hidup, dan Permasalahan Sosial”, para pembaca di ajak untuk menelusuri sejarah kota-kota di Jawa pada masa dahulu ketika tradisionalitas masih menjadi corak perkotaan sehingga dapat dibandingkan dengan masa sekarang. Perkotaan hingga masa sekarang telah mengalami perkembangan dalam sejarahnya, yang mana itu merupakan suatu keniscayaan. Namun demikian, tradisionalitas yang mengandung nilai-nilai budaya yang tinggi, seharusnya dilindungi dan dilestarikan sebagai kekayaan masa lalu yang bersejarah untuk masa kini meskipun modernisasi begitu marak.

*) Peresensi adalah Pengamat Sosial pada Yayasan Ali Maksum, Yogyakarta

Komentar

 

 

 

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>