Pergolakan Bali di Simpang Globalisasi

Sumber: JawaPos,08 Agustus 2010
Judul Buku: Ajeg Bali: Gerakan, Identitas Kultural, dan Globalisasi
Peresensi: Saiful Amin Ghofur
Penulis: Prof Dr Nengah Bawa Atmadja MA
Penerbit: LKiS, Jogjakarta
Cetakan: I, Juni 2010
Tebal: xxvi + 550 halaman

Tentu masih belum lekang dari ingatan ketika Amit Virmani merilis Cowboys in Paradise pada Mei silam. Film dokumenter ihwal para lelaki gigolo di kawasan Pantai Kuta itu tak urung membuka selubung kotak pandora Pulau Dewata. Meski sempat menyulut kontroversi, tak sedikit yang diam-diam mengamini bahwa Bali kini mengalami penggerusan budaya dan pergulatan identitas. Globalisasi sudah menusuk jauh dalam relung jantung kehidupan masyarakat Bali.

Dalam konteks demikian, karya Profesor Nengah ini menautkan signifikansinya. Buku ini mendaraskan kajian antropologi-budaya, hatta mampu menyibak tabir gelap anomali kehidupan masyarakat Bali. Tak hendak menepuk air di dulang tepercik muka sendiri, lelaki kelahiran Tabanan, 17 Februari 1951, ini menyuguhkan informasi berbasis riset yang objektif sehingga menjadi otokritik-evaluatif bagi masyarakat Pulau Seribu Pura sendiri.

Menurut Prof Nengah, akar tunjang pergolakan kultural Bali bermula tumbuh ketika rezim Orde Baru mengarusutamakan kebijakan pembangunan ekonomi di sektor pariwisata. Simsalabim. Dalam tempo relatif cepat, pariwisata Bali tumbuh serupa gadis perawan nan elok jelita -meski untuk itu terjadi eksploitasi besar-besaran. Lahan pertanian berubah fungsi menjadi resor wisata. Payung industrialisasi pariwisata pun terkembang dengan jemawa (hlm. 65).

Kondisi tersebut menimbulkan keterasingan bagi masyarakat Bali. Tak ubahnya tamu di rumah senĀ­diri. Identitas kultural Bali yang khas (indigenous culture) perlahan meruap di tengah migrasi para pendatang yang terus bergelombang. Hingga 2006, berdasar data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk Bali sudah mencapai 3.310.307 jiwa -jumlah yang jauh dari ideal mengingat luas Pulau Bali 563.282 hektare persegi dan semestinya dihuni oleh sekitar 2,4 juta jiwa. Sedangkan hampir separo di antara keseluruhan jumlah penduduk Bali itu digenapi para pendatang.

Fenomena tersebut memunculkan paradoks yang luar biasa dalam berbagai bidang kehidupan. Para pendatang dari berbagai wilayah di Indonesia dengan latar belakang yang beragam membaur dengan masyarakat lokal sehingga tak jarang menimbulkan gap dan memunculkan konflik. Ibarat api dalam sekam, ketegangan itu pun terpatri dalam segala bentuk relasi para pendatang dan masyarakat lokal saban hari. Dalam konteks ini, terjadilah apa yang oleh Claude Levi Strauss disebut sebagai kebudayaan panas (hot culture). Yakni, kebudayaan yang bergesekan satu sama lain dengan epistemologi budaya yang beragam.

Buku ini berhasil menyibak fakta betapa parahnya perkelahian kepentingan di Pulau Dewata. Bali -yang oleh sejumlah antrolopog Barat dalam karya-karya etnografisnya digambarkan penuh gairah dan pesona karena relasi sinergis antara masyarakat lokal Bali, budaya, agama, dan alamnya sebagai suatu ciri arkais kebudayaan Bali- saat ini mulai tergerus oleh kapitalisme yang digerakkan oleh ekonomi pariwisata. Naga-naganya, lahirlah agama pasar dan masyarakat konsumtif (hlm. 73-89).

Kawasan pariwisata di seputar Denpasar, Kuta, Sanur, dan Badung, misalnya, diserbu oleh pernak-pernik reklame yang carut-marut sekaligus bancuh dalam penataan ruang publik yang acakadut. Di sekitar kawasan pariwisata itu pula berjajar kafe-kafe temaram tempat transaksi harga diri secara permisif menyalurkan libido yang acap kali terpancang sehingga kian melengkapi potret suram citra Bali sekarang. Maka, kisah industri seks yang bersimaharajalela bukan lagi mitos belaka (hlm. 171-248).

Penelusuran Prof Nengah dengan sangat telaten ke dalam gorong-gorong antropologi-budaya Bali menemukan fakta yang menyesakkan dada. Di satu sisi, ada pergelutan yang terus memanas antara etnisitas masyarakat Bali dan para pendatang. Posisi para pendatang yang semula di pinggir kini mulai merangsek dan mendominasi sektor perekonomian di lokasi yang cukup strategis di sekitar kawasan pariwisata. Kondisi ini pada akhirnya melahirkan ketegangan yang serius (hlm. 366).

Di sisi lain, melalui buku ini, Prof Nengah ingin menegaskan adanya paradoksal antara nilai-nilai tradisi Bali dan globalisasi. Masyarakat Bali dengan tatanan nilai-nilai tradisi yang adiluhung tak bisa mengelak dari (dan mesti berhadapan dengan) nilai-nilai baru yang diembuskan globalisasi. Paradoksal tersebut tak harus diperhadapkan secara diametral, akan tetapi perlu diberi pemaknaan baru, disikapi secara kritis, sekaligus dalam waktu bersamaan dibutuhkan reintepretasi terhadap nilai-nilai lama yang kurang relevan.

Atas dasar itulah, buku ini patut diapresiasi. Buku ini nyata-nyata memberikan warna baru terhadap kajian antropologi-budaya Bali. (*)

Saiful Amin Ghofur, Redaktur Jurnal Millah MSI UII Jogjakarta

Komentar

 

 

 

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>