Suka Duka Mengelola Kompleksitas Komunikasi Perusahaan

Sumber: Republika, 13 Agustus 2010
Judul: Komunikasi dalam Pusaran Kompetisi, Perspektif Praktisi Mengelola Komunikasi di Telkom
Penulis: Eddy Kurnia
Tebal: XXX + 292 Halaman
Penerbit : Penerbit Republika, Jakarta
Cetakan: Pertama, Juni 2010

“Kendati banyak orang memandang posisi Telkom sebagai BUMN itu enak, sebagai orang dalam saya justru melihat sebaliknya.” Pengakuan ini menjadi wakil dari pengalaman Vice Presiden Public and Marketing Communication PT Telekomunikasi Indonesia, Eddy Kurnia selama berkecimpung di tempat kerjanya.

Lewat buku ini, dengan sangat mengalir Eddy membegi pengalamannya mengelola komunikasi di Telkom. Dengan 22 ribu karyawan, kantor yang tersebar dari Sabang sampai Merauke dan produk yang sangat beragam, urusan komunikasi perusahaan menjadi tidaklah sederhana. Dinamika komunikasi di perusahaan tersebut menjadi sangat kompleks.

Sebelum lebih jauh membuka perjalannya mengelola komunikasi, bagian awal buku ingin mengisahkan transformasi yang terjadi di Telkom. Perusahaan yang semula memonopoli sistem telekomunikasi dalam negeri, kemudian berubah menjadi perusahaan yang harus bersaing di pasar bebas. Transformasi ini kemudian membawa pengaruh pada pengelolaan sistem komunikasi di perusahaan tersebut.

Setelah membahas soal transformasi di Telkom, Eddy kemudian mulai memaparkan sentuhannya langsung dengan urusan komunikasi perusahaan. Termasuk di dalamnya dia ungkapkan komunikasi dengan media massa dan komunikasi internal perusahaan. Porsi pembahasan komunikasi yang terkait media massa terlihat cukup dominan dalam buku ini.

Satu hal yang juga menarik sebelum bahasan soal transformasi yang terjadi di Telkom juga bisa ditemukan dalam pengantar buku ini. Profesor Deddy Mulyana, sang penulis pengantar menggambarkan soal komunikasi konteks tinggi dan komunikasi konteks rendah. Secara sangat sederhana, komunikasi konteks rendah bisa dipahami sebagai bentuk komunikasi yang sangat verbal, lugas. Sementara komunikasi konteks tinggi, sangat simbolik, birokratis.

Sebagai BUMN, Telkom jelas memiliki kaitan yang sangat erat dengan budaya birokrasi. Namun di sisi lain, Telkom juga dituntut untuk bisa lugas dan terbuka, sebagai institusi bisnis. Tentu tidak mudah untuk menggabungkan kedua tarikan tersebut menjadi satu bentuk komunikasi yang ideal.

Di akhir pengantarnya, guru besar komunikasi Universitas Padjadjaran ini hanya menyarankan adanya kombinasi dari kedua jenis komunikasi tersebut yang disebutnya sebagai komunikasi konteks menengah. Model tersebut merupakan gabungan dari sisi positif komunikasi konteks tinggi dan sisi positif komunikasi konteks rendah.

Tak hanya berisi pengalaman bekerja di Telkom, buku ini juga dilengkapi dengan rujukan akademik. Dengan demikian, tak hanya relevan bagi para praktisi, buku ini juga tetap nyambung untuk dibaca kalangan akademik. Dengan bahasa tutur yang lugas, pemaparan buku ini menjadi sangat mengalir dan nyaman diikuti.

Komentar

 

 

 

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>