Catatan Muhibah Seorang Relijius

Sumber: Kompas, 22 September 2010
Judul: Awakening the Giant, Membangunkan Negeri Raksasa yang Tertidur
Peresensi: Dyah Sulistyorini
Penulis: Munawar Fuad Noeh
Penerbit: Gramedia

Buku berjudul “Awakening the Giant, Membangunkan Negeri Raksasa yang Tertidur” adalah dokumentasi muhibah ke luar negeri seorang aktivis pemuda religius yang memosisikan diri pembelajar sekaligus duta Public Relation (PR) untuk Indonesia.

Buku ini ditulis Munawar Fuad Noeh, dosen dan konsultan program sosial yang tercatat sebagai Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat Komite Nasional Pemuda Indonesia (PPP KNPI) Periode 2005-2008 serta Sekretaris Jenderal Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor (2005-2010).

Meskipun telah menulis lebih dari 20 judul buku, Munawar Fuad Noeh yang lebih suka memberi akronim MF pada dirinya, ternyata tetap mengklaim diri sang musafir yang ummy, orang yang sangat awam dan bodoh dalam hal dunia luar negeri.

Buku 228 halaman tidak berwarna ini diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, 2009, dan dimukadimahi oleh pengantar dari tiga pejabat pemerintah, Direktur Utama BRI dan Duta Besar Selandia Baru.

Bagian paling menarik dari buku ini adalah prolognya yang menceritakan latar belakang penulisan buku berikut sejumlah pertanyaan yang ingin dijawabnya tentang makna berbangsa dan menjadi warga bangsa yang merdeka. Rupanya MF ingin mencoba melihat, merasakan posisi dan peran Indonesia dalam percaturan negara-negara lain.

Dalam prolognya dia mengajukan pertanyaan-pertanyaan kritis seperti mengapa bangsa lain bisa maju dan unggul dalam menata dirinya, bagaimana setiap bangsa menyiapkan generasinya, menata sistem negaranya dan mendesain sistem kepemimpinan yang mampu mempengaruhi dunia, serta pertanyaan mengapa mereka lebih cepat keluar dari krisis kehancuran dan keruntuhan.

Isi buku ini lebih banyak menceritakan pencatatan, refleksi, perbandingan dan manfaat yang mungkin diambil dari muhibahnya ke 15 negara, dalam kapasitasnya sebagai wakil Indonesia yang mengemban misi kepemudaan, kewirausahaan, misi pendidikan dan kebudayaan.

Munawar menyebutkan pertemuannya dengan sejumlah tokoh yang menaruh perhatian dalam dunia pendidikan sebagai kunci untuk kemajuan bangsa.

Buku ini dilengkapi peta, foto-foto pribadi penulis, di samping perasaan dan ide yang mengalir lancar yang bisa menginspirasi warga bangsa untuk bangkit sejajar dengan bangsa lain di dunia.

Ada dualisme emosi dalam buku ini, yaitu antara semangat penulis dan kegelisahannya. Pada satu sisi, penulis tampak bersemangat demi perubahan untuk mencapai Indonesia yang besar, namun di sisi lain dia gelisah melihat kondisi yang sebaliknya sering dijumpai di Indonesia.

Dalam pengantar buku itu, Adhyaksa Dault, melukiskan apresiasinya pada Munawar dengan berkata,”Saya menggarisbawahi pentingnya semangat itu, semangat untuk berbagi pengalaman dari penulis kepada para pemuda dan masyarakat tentang sebuah perjalanan internasional, interpretasi dan bahkan inspirasi penulis untuk kemudian dikontekstualkan dengan kondisi ke Indonesiaan serta mencoba membangun gagasan Indonesia dalam konteks hubungan dengan masyarakat dunia.”

Adhyaksa melanjutkan, “Semangat penulis dan berbagi ini sangat penting, mengingat banyak orang yang pernah mempunyai pengalaman nasional dan internasional tetapi tidak menuliskannya dalam sebuah buku. Pengalaman tersebut akhirnya hanya menjadi khasanah pribadi, padahal pengalaman internasional tersebut perlu dibagi agar memperluas cakrawala berpikir serta menjadi inspirasi bersama dalam menghadapi berbagai permasalahan bangsa.”

Buku ini tergolong ringan, namun bagian paling eksotis dari buku ini adalah tulisan di halaman 207 tentang profil Munawar Fuad yang ditulis Ahmad Gaus AF, penyunting buku ini.

Dengan cerdas Ahmad menceritakan sosok penulis yang digambarkannya seorang pembelajar dan pekerja keras. Bagian ini mungkin yang paling mengilhami banyak orang dibandingkan paparan daftar riwayat hidup penulis di halaman belakang.

Kritik terbesar dari buku ini adalah judulnya yang bombastis, berharap kebangkitan raksasa tidur, namun kurang penjelasannya kurang terstruktur dan rinci, khususnya mengenai “the giant” itu.

Namun itu terselamatkan oleh hadirnya epilog yang ditulis Bambang Ismawan, tokoh Lembaga Swadaya Masyarakat yang menganalisis bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menanamkan spirit pembelajar.

Bambang Ismawan menuturkan, menjadi bangsa yang besar membutuhkan nilai-nilai utama seperti demokras, toleransi dan mengetahui bagaimana hidup bersama secara baik sebagai sesama anggota masyarakat.

Epilog ini tajam dan memberi pujian bagi MF yang digambarkannya seorang pembelajar yang efektif karena MF mencatat, merefleksikan, membandingkan, dan mengambil manfaat, mengembangkan apa yang dilihat, didengar dan dirasakannya, yang paralel dengan konteks Indonesia yang bertumbuh.

Bambang meyakini pendapat Hernando de Sotto (2006) yang menyebutkan bahwa asset informal suatu negara 20 kali lebih besar daripada aliran investasi asing dan 90 kali lebih banyak dari bantuan asing dalam 30 tahun.

Komentar

 

 

 

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>