Menekan Radikalisme dengan Komik “Ketika Nurani Bicara”

Sumber: Antara News, 25 September 2010
Judul: Ketika Nurani Bicara
Peresensi: Yudha Pratama Jaya
Penerbit: LSM Lazuardi Birru

Ada banyak cara untuk meniadakan atau setidaknya melembutkan radikalisme Islam dan menangkal propaganda teror dari mereka yang memanipulasi agama untuk memaksakan kehendaknya. Salah satunya adalah seperti yang ditempuh LSM Lazuardi Birru, menerbitkan komik berjudul “Ketika Nurani Bicara.”

Cerita bergambar setebal 130 halaman ini diangkat dari keprihatinan atas peristiwa teror bom di Bali, lazim dikenal dengan Bom Bali I, pada 12 oktober 2002.

Untuk sampai menjadi sebuah komik menarik ini, tim Lazuardi Birru mengadakan riset selama dua tahun dan mewawancarai tiga figur yang kemudian menjadi tokoh dalam komik tersebut.

Ketiganya adalah Ali Imron (pelaku Bom Bali), H. Bambang Priyanto (relawan) dan Hayati Eka laksmi (istri salah seorang korban meninggal Bom Bali).

Tidak cukup dengan itu tim juga menggelar observasi ke beberapa daerah yang dianggap penting, seperti Lamongan, Gresik, Surabaya, Bali dan tentu saja ke penjara di mana para radikal pelaku teror dibui.

Setelah itu mereka menyusun karakter tokoh dalam cerita, termasuk karakter cerita itu sendiri. Menurut Lazuardi Birru, komik ini berupaya memberi gambaran kepada generasi muda, bahwa terorisme memberikan luka dan prahara kepada negara.

Mereka juga ingin berpesan kepada anak-anak bangsa untuk senantiass mawas diri dan berlindung dari ideologi-ideologi teror yang terus saja mengendap-endap membidik anak-anak negeri ini.

Salah satu yang menarik dari komik ini adalah pesan perdamaian yang terungkap dari hati nurani pelaku teror bom sendiri, Ali Imron.

Ali Imron ternyata menyesali perbuatannya. Dia bahkan bersimpati pada keluarga-keluarga korban dan relawan yang turun para korban teror Bom Bali I.

Tiga tokoh

Cerita diawali dari pengenalan para tokohnya di halaman pertama; Ali imron (Ale), Haji Bambang dan Hayati Eka Laksmi (Hayati). Di bagian ini terselip pula ilustrasi Jalan Legian di Kuta pada 12 oktober 2002 dan lokasi pemboman, Sari Club dan Paddys kafe.

Cerita dan ilustrasi gambarnya sangat berkronologi sehingga mudah untuk diikuti penikmatunya, karena selain gambar yang sepenuhnya berwarna dan menarik, juga dilengkapi rangkaian teks yang menjelaskan situasi atau gambar yang ditampilkan.

Dalam komik itu, Ali Imron bertutur mengenai keterlibatannya dalam gerakan terorisme dan serangan bom, keraguannya dalam melakukan teror, dan akhirnya berbuah penyesalan tiada akhir darinya.

Sementara Bambang Priyanto mengungkapkan kepedulian para relawan dalam menolong korban tanpa memandang agama. Terkhir, Hayati, ibu dua anak, bercerita tentang perjuangan hidup dan kegigihannya untuk bangkit menjadi tulang punggung keluarga, menggantikan peran suami yang meninggal karena Bom Bali I.

Ketiga tokoh utama komik ini mengungkapkan nuraninya untuk disampaikan kepada generasi muda demi Indonesia damai.

Pesan Ali Imron

Yang termenarik dari komik mungkin adalah pengakuan pelaku tero bom, Ali Imron, bahwa dia telah salah menafsirkan seruan agama dan mengaku bersalah telah membunuhi orang-orang yang tak berdosa, sekaligus mewariskan nestapa kepada keluarga-keluarga yang ditinggalkan korban bom.

Dari rekaman video yang dibuat tim Lazuardi birru, Ale atau Ali Imron, mengutarakan tiga pesan penting dari lima pesannya dari penjara mengenai jihad dan nuraninya yang menentang teror, dan kekerasan.

Pesan pertama berbunyi, “Saya harap keinginan saya bisa sampai ke masyarakat, untuk mencegah kekerasan.”

Kedua, masih dalam tuturan langsung Ali, “Semoga komik ini bisa mengingatkan kawan-kawan di kelompok saya dulu bahwa masih banyak cara untuk melakukan jihad. Agar mereka berpikir bahwa jihad bisa dilakukan tanpa harus melakukan aksi kekerasan.”

Lalu pesan ketiga, yang ada baiknya dieksploitasi negara untuk meredam terorisme dan radikalisme, bahwa (komik) ini bertujuan memberitahukan sedini mungkin (kepada generasi muda) agar tidak cepat terpengaruh pihak tertentu, hanya karena dasar emosional semata.

Dyah Madya Ruth, Ketua LSM Lazuardi Birru, menyebut komik ini sebagai esensi jihad, yang dipahami berbeda para penafsirnya.

Komik ini sendiri mengilustrasikan setidaknya empat pemahaman jihad yang diaplikasikan berbeda oleh orang-orang yang justru berkeyakinan sama, Islam.

Yaitu antara jihad ala Ali Imron yang melakukan aksi teror, lalu jihad kedua Ali yang berusaha menata dirinya kembali yang diprologi oleh pengakuan bersalahnya atas aksi teror yang dilakukannya.

Kermudian jihad gaya ‘Pak Haji Bambang yang membantu korban Bom Bali tanpa mengenal batas ras dan agama.

Terakhir, jihad Ibu Hayati yang balik sediakala menjadi tulang punggung keluarga setelah nyawa suami terenggut teror bom. (*)

1 comment to Menekan Radikalisme dengan Komik “Ketika Nurani Bicara”

Komentar

 

 

 

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>