Sepak Bola dan Persaingan Etnisitas

Sumber: Kompas, 13 Oktober 2010
Judul Buku : Tionghoa Surabaya Dalam Sepak Bola 1915-1942
Penulis: RN Bayu Aji
Peresensi: Dina Mahardinia
Penerbit  : Ombak, 2010
Jumlah Halaman : xxi + 141 hlm

Di mana dan kapan saja, sepak bola selalu menarik dan memesona manusia. Kendati terjadi krisis, perang, bencana, skandal suap, pelanggaran nilai fair play dalam olahraga, sepak bola tidak pernah mati dan justru tetap menghibur karena sepak bola telah menjadi olahraga rakyat.

Sindhunata pernah menyatakan bahwa, dunia sepak bola juga dapat menunjukkan bagaimana sebenarnya pergulatan hidup yang terkadang keras karena sepak bola tidak selalu berakhir dengan kemenangan. Sepak bola juga mengajarkan bagaimana menerima kekalahan. Sepak bola juga secara tegas melibatkan penonton untuk senantiasa berani dalam keadaan menang dan kalah. Oleh sebab itu, sepak bola mengajari orang untuk menghadapi pengalaman realisme nasib.

Bagaimana dengan persepakbolaan di Indonesia, tepatnya ketika masih bernama Hindia Belanda? Bagaimana pula awal sepak bola tumbuh di Surabaya dan kota besar di Hindia Belanda? Buku yang ditulis oleh RN Bayu Aji dengan judul Tionghoa Surabaya dalam Sepak Bola 1915-1942 ini akan menjelaskan bagaimana sepak bola di Indonesia terbangun berdasarkan etnisitas yang ada.

Perkembangan sepak bola di Hindia Belanda awal abad ke-20 tidak bisa terlepas dari pengelompokan masyarakat menjadi tiga kelas yakni kelas atas Belanda (Eropa), kelas menengah yakni Vreemde Oosterlingen (Tionghoa, Arab, Timur Jauh) dan kelas bawah yakni Bumiputera (Inlander).

Pembedaan tersebut merupakan salah satu faktor penguat bahwa sepak bola bisa tumbuh mengakar melalui etnisitas dan suku. Tiga kelas masyarakat di Hindia Belanda, secara perlahan melalui proses kolonialisasi mengenal sepak bola dan kemudian mempraktikkannya melalui komunitas dan kelompok masyarakat masing-masing.

Kedudukan orang-orang Tionghoa di Hindia Belanda yang sedikit lebih mapan daripada Bumiputera menyambut baik hal tersebut. Sekolah-sekolah Tionghoa sedikit maju dan bahkan bisa bersaing dengan sekolah Belanda, baik melaui sisi finansial serta manajemen pengelolaan dibanding dengan sekolah Bumiputera. Bukan tidak mungkin orang Tionghoa dalam realitanya lebih siap menerima sepak bola melalui ranah pendidikan.

Selain kuat dan dapat menguasai faktor ekonomi (wilayah yang tidak bisa disentuh dan dikelola oleh orang Belanda dan Bumiputera), orang Tionghoa di Hindia Belanda juga terkenal perhatian dalam ranah olahraga karena olahraga dapat mengharumkan nama bangsa. Pembentukan Perkumpulan Olahraga (POR) merupakan jawaban dan perhatian orang Tionghoa terhadap olahraga yang di kemudian hari berhasil membesarkan bond-bond sepak bola.

Keberadaan perkumpulan sepak bola Tionghoa terutama di Surabaya tidak bisa terlepas dari peranan POR Gymnastiek en Sportvereeniging Tiong Hoa yang berdiri pada 31 Desember 1908. Keberadaan POR tersebut menjadikan Tionghoa Surabaya sebagai kesebelasan sepak bola kalangan orang Tionghoa, sehingga bisa berbangga diri dalam dunia olahraga dan sepak bola. Tionghoa Surabaya paling tidak berpacu dan ikut mewarnai sejarah sepak bola di Surabaya dan kejuaraan antar-bond Tionghoa di Hindia Belanda.

Tionghoa Surabaya sebagai representasi kiblat sepak bola Tionghoa di Surabaya dan Hindia Belanda dengan cepat mengikuti perkembangan kemajuan sepak bola Tionghoa, memiliki pengelolaan dan manajemen klub yang teratur dan rapi. Semenjak kompetisi pertandingan antar kota (steden wedstrijden) dilakukan dengan UMS Batavia, Union Semarang dan YMC Bandung, hingga CKTH dan HNVB, Tionghoa Surabaya menempatkan diri sebagai bond elit di Hindia Belanda. Tionghoa sering mendapatkan juara steden wedstrijden dan kompetisi lokal di SVB. Di antaranya adalah piala Hoo Bie 1921-1922, piala Tjoa Toan Hoen 1925, Juara CKTH 1027-1929, juara HNVB 1030-1932. Masa keemasan Tionghoa Surabaya terjadi pada tahun 1939 dengan meraih juara kompetisi SVB (Soerabajasche Voetbal Bond), HNVB serta juara pada kejuaran Java Club Champion.

Selain itu, seperti kita ketahui bahwa pada masa Hindia Belanda terdapat tiga induk organisasi sepak bola yang eksis yakni NIVB (Nederlandsch Indische Voetbal Bond) bagi orang-rang Belanda (Eropa), HNVB (Hwa Nan Voetbal Bond) bagi orang-orang Tionghoa dan PSSI (Persatuan Sepak Raga Seluruh Indonesia). Pada tahun 1938, Hindia Belanda mengikuti Piala Dunia di Perancis. Saat itu terjadi ketegangan antara NIVB dan PSSI terkait nama timnas yang akan berangkat mengikuti Piala Dunia.

PSSI meminta nama timnas yang ikut Piala Dunia adalah Indonesia sedangkan NIVB minta nama Nederlandsch-Indie (Hindia Belanda/Dutch East Indies). FIFA mengakui nama Nederlansch-Indie dan PSSI menarik dari timnas. Peran inilah yang kemudian diisi oleh kelompok Tionghoa untuk ikut pertama kali memperkuat timnas. Pemain Tionghoa Surabaya yang ikut Piala Dunia adalah Kiper Tan “Bing” Mo Heng dan striker Tan Hong Djien. Sedangkan dari bond Gie Hoo Surabaya adalah Tan See Han.

Sepak bola di Hindia Belanda juga sarat dengan nuansa politik, baik kalangan Tionghoa, Belanda dan Bumiputera. Penggalangan dana dan pertandingan amal merupakan salah satu contoh bahwa sepak bola dekat dengan politik. Pertandingan amal bisa dikatakan sebagai bentuk semangat nasionalisme meskipun bersifat simbolik dan sesaat. Nasionalisme Tionghoa Surabaya lebih dekat dengan negara Tiongkok karena pengaruh THHK dan Soe Poe Sia. Selanjutnya, peristiwa pemboikotan pemberitaan oleh Pers Melayu Tionghoa tahun 1932 yang dilakukan oleh Liem Koen Hian terhadap petandingan NIVB juga merupakan salah satu bentuk semangat nasionalime, meskipun sempat berselisih dengan Tionghoa Surabaya.

Sepak bola di Hindia Belanda berhasil memainkan peran tidak hanya dalam pendekatan olahraga dan permainan. Sisi-sisi politik, sosial, ekonomi dan budaya dapat ditransformasikan ke dalam sepak bola, sehingga ada yang memanfaatkannya sebagai salah satu alat perjuangan bangsa dan membangkitkan semangat nasionalisme masyarakat di Hindia Belanda berdasar paham dan kebangsaan masing-masing, termasuk kalangan masyarakat Belanda, Tionghoa (Vreemde Oosterlingen), dan Bumiputera (Inlander).

Komentar

 

 

 

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>