Dalil Penguat Berhenti Merokok

Sumber: Republika, 27 Oktober 2010
Judul: Merokok Haram
Penulis: Ahmad Rifa’i Rif’an
Penerbit: Penerbit Republika

Siapa yang peduli, ketika anak-anak, remaja, dan pemuda mulai terjerat kebiasaan merokok? Anak-anak balita dan Sekolah Dasar mulai meniru kebiasaan merokok kakak, orangtua, atau gurunya sendiri. Remaja mulai berani mencoba dan akhirnya kecanduan merokok. Para pemuda lebih suka menyakiti diri dan bergumul dengan kepulan asap rokok. Sementara, bangsa ini perlu generasi penerus yang cerdas, kuat, dan sehat, bebas asap rokok.

Siapa yang peduli, ketika biaya hidup rumah tangga semakin tinggi, sementara uang ratusan ribu dikeluarkan untuk membeli rokok oleh anggota keluarganya? Pengeluaran untuk rokok merupakan pengeluaran rumah tangga tertinggi kedua yang bisa menghabiskan seperempat dari pendapatan keluarga. Di sisi lain, anak-anak mereka masih memerlukan biaya untuk mengenyam pendidikan. Anggota keluarga lainnya masih perlu biaya untuk membeli makanan yang layak untuk memenuhi kebutuhan gizi tubuh mereka.

Siapa yang peduli, ketika orang-orang tidak berdosa ikut teracuni asap rokok yang diisap orang lain di tempat-tempat umum? Bahkan juga di sekolah dan rumah-rumah. Padahal, orang-orang tidak berdosa itu juga punya hak untuk hidup sehat. Mereka punya hak untuk menghirup udara segar. Mereka punya hak untuk menikmati fasilitas umum dengan semestinya. Dan di antara mereka, ada saudara-saudara kita dan anak-anak kita.
Siapa yang peduli?

Ahmad Rifa’i Rif’an, pemuda ini dengan tegas dan lantang menyerukan bahwa, Merokok itu Haram! Bukan hal yang mudah untuk menyatakan bahwa rokok itu haram di tengah masyarakat yang sebagian besar “menghalalkannya”. Namun, dengan tujuan yang baik– mengetengahkan sebuah renungan yang kiranya dapat melepaskan anak-anak, remaja, pemuda, dan masyarakat Indonesia secara umum dari jeratan bahaya rokok– buku Merokok Haram hadir ke hadapan pembaca.

Di alam demokratis sekarang ini, bisa jadi pihak yang kurang setuju atau tidak setuju dengan isi buku ini. Para pecandu rokok dan pengusaha rokok jelas tidak setuju. Para ulama, mungkin ada yang tidak setuju dengan dalil-dalil yang disampaikan, dan memilih menggolongkan rokok dan merokok sebagai sesuatu yang mubah atau makruh. Namun, segala perbedaan pendapat dan perdebatan itu kiranya tidak akan menunda atau menyurutkan langkah kita untuk bersama-sama menyelamatkan bangsa dari bahaya asap rokok.

Buku Merokok Haram dikemas dengan dalil yang kuat dan penyajian yang ringan. Buku ini hadir sebagai bentuk kepedulian untuk menciptakan kehidupan Indonesia yang lebih baik. Indonesia yang sehat, bebas asap rokok. Semestinya buku ini bisa memperkaya pandangan masyarakat tentang rokok dan kebiasaan merokok. Selebihnya, biar masyarakat yang memilih apa yang terbaik bagi kehidupannya sendiri.

Komentar

 

 

 

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>