Rahasia Menjadi Haji Mabrur

Sumber: Koran Jakarta, 16 Nopember 2010
Judul : 25 Rahasia Terdahsyat Haji hingga Mabrur
Peresensi: Humaidi
Penulis : KH. A. Aziz Masyhuri
Penerbit : Pustaka Pesantren LKiS, Yogyakarta

Ibadah haji adalah rukun Islam yang kelima setelah syahadat, salat, zakat, dan puasa. Menunaikan ibadah haji adalah bentuk ritual tahunan yang dilaksanakan kaum muslim sedunia. Sebagai ibadah fardhu, tidak ada alasan untuk tidak mengerjakannya ketika memiliki kemampuan, baik dalam segi materi atau finansial, fisik, maupun mentalspiritual, dengan berkunjung dan melaksanakan beberapa kegiatan di beberapa tempat di Arab Saudi pada waktu yang dikenal sebagai musim haji (bulan Dzulhijjah).

Bagi masyarakat Indonesia, ibadah haji lebih dari sekadar ibadah yang berdimensi spiritual semata. Ibadah ini juga berdimensi sosial. Banyak yang berhaji hanya untuk prestise dan meningkatkan statifi kasi sosial dengan gelar H di depan namanya. Akibatnya, tidak sedikit orang yang tergelincir dari tujuan utama ibadah tersebut sehingga ibadah haji yang dilakukan seolah-olah tidak bermakna.

Pada titik inilah KH A Aziz Masyhuri, seorang penulis produktif sekaligus pengasuh pondok pesantren Al-Aziziyah, Jombang, melalui buku 25 Rahasia Terdahsyat Haji hingga Mabrur ini, menghadirkan hikmah dan rahasia di dalam pelaksanaan berbagai ritual ibadah haji. Dengan bahasanya yang refl ektif, penulis menjabarkan ihwal rahasia-rahasia berdasarkan referensi kitab dari ulama-ulama terkemuka.

Penulis menguraikan pertanyaan fundamental seputar haji, semisal mengapa pelaksanaan haji harus di kabatullah dan terbatas pada waktu-waktu tertentu, mengapa pula harus bersusah payah berkemah di Padang Arafah yang berdebu dan panas, berlari-lari kecil di antara bukit Shafa dan Marwa, dan berlari tujuh kali mengelilingi kabah.

Menurut penulis, kesemuanya tentu bukan tanpa alasan. Dengan mengupas makna-makna simbolis ritual haji, banyak substansi sosialnya. Pada bagian yang lain, turut dikupas sejarah pembangunan Kabah dan perkembangannya dari masa ke masa. Pembaca akan menemukan pemahaman bahwa ternyata Kabah memiliki arti penting bagi umat-umat lain jauh sebelum kedatangan Islam.

Umat Hindu, misalnya, memercayai bahwa ruh Syiwa, salah satu sesembahan mereka, menjelma menjadi Hajar Aswad yang ada di Kabah. Sebagian ahli sejarah percaya pada zaman dulu, orang Persia juga begitu mengultuskan bangunan berbentuk kubus ini (halaman 21). Selain itu, penulis menguak fenomena kurban pada umat terdahulu.

Dalam uraiannya, penulis mengemukakan bahwa praktik agama mana pun mengenal ibadah kurban dengan berbagai bentuknya. Penyembelihan kurban pada masa lalu tidak terbatas pada binatang, tetapi banyak yang melewati batas hingga mempersembahkan manusia sebagai bagian dari ritual, seperti bangsa Fisinia, Konan, Suriah, Persia, dan Mesir Kuno. Dalam konteks seperti itulah buku ini bisa dibaca dan dipahami.

Kehadiran buku ini layak dianggap sebagai penambah cakrawala khasanah ajaran Islam, terutama sebagai panduan dan bacaan alternatif mengenai haji. Dengan pemahaman yang baik terhadap aneka ritual haji, kontekstualisasi ajaran Islam tentu dapat lebih membumi dan bermakna.

Peresensi adalah Humaidi, staf pendidik pada MTs Ali Maksum Ponpes Krapyak dan aktivis pada Lembaga Kajian Agama dan Swadaya Umat (LeKAS) Yogyakarta

Komentar

 

 

 

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>